GUW0GUzoGSOpGSr0TUz9GfY0Gi==

Headline:

Bentuk dan Jenis Dongeng



Bentuk dan Jenis Dongeng

Dongeng merupakan salah satu bentuk karya sastra tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap dongeng memiliki ciri khas berdasarkan isi, tokoh, latar, maupun pesan yang disampaikan. Oleh karena itu, dongeng dapat dikelompokkan ke dalam beberapa bentuk atau jenis.

Menurut Safitri dan Suwartini (2022), beberapa jenis dongeng yang dikenal antara lain myth atau mitos, legenda, fabel, sage, jenaka, cerita pelipur lara, dan cerita perumpamaan. Selain itu, terdapat pendapat lain yang mengelompokkan dongeng menjadi lima jenis, yaitu fabel, legenda, mite, sage, dan parabel (Damariswara, 2018; Saidah & Damariswara, 2019).

Berikut penjelasan mengenai berbagai bentuk dan jenis dongeng.

1. Myth atau Mitos

Mitos adalah dongeng yang mengandung cerita tentang alam gaib, makhluk supernatural, atau benda-benda magis yang dipercaya berkaitan dengan suatu wilayah atau masyarakat tertentu. Mitos biasanya berkembang berdasarkan kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Cerita mitos sering kali memiliki unsur keajaiban, kekuatan gaib, atau kejadian yang sulit dijelaskan secara logis. Meskipun tidak dapat dibuktikan sebagai peristiwa nyata, mitos memiliki nilai budaya karena mencerminkan kepercayaan dan pandangan masyarakat pada masa lalu.

Contoh cerita mitos antara lain:

  • Nawang Wulan dan Jaka Tarub dari Jawa Tengah.

  • Nyi Roro Kidul dari Jawa Tengah.

  • Batu Menangis dari Kalimantan.

2. Legenda

Legenda adalah dongeng yang menceritakan asal-usul atau riwayat terjadinya suatu daerah, tempat, gunung, danau, maupun peristiwa tertentu. Cerita legenda biasanya dikaitkan dengan suatu wilayah sehingga menjadi bagian dari cerita rakyat daerah tersebut.

Legenda sering kali mengandung pesan moral yang dapat dipelajari oleh pembacanya. Selain sebagai hiburan, legenda juga berperan dalam memperkenalkan sejarah dan budaya suatu daerah melalui cerita yang menarik.

Contoh cerita legenda antara lain:

  • Legenda Rawa Pening dari Jawa Tengah.

  • Legenda Tangkuban Perahu dari Jawa Barat.

  • Legenda Malin Kundang dari Sumatera Barat.

3. Fabel

Fabel adalah dongeng yang menjadikan binatang sebagai tokoh utama. Dalam cerita fabel, binatang biasanya digambarkan memiliki kemampuan seperti manusia, misalnya dapat berbicara, berpikir, bekerja, dan mengambil keputusan.

Fabel sering digunakan sebagai media pendidikan bagi anak-anak karena ceritanya sederhana dan biasanya mengandung pesan moral yang mudah dipahami. Tokoh-tokoh binatang dalam fabel sering digunakan untuk menggambarkan sifat manusia, seperti kecerdikan, kesombongan, kejujuran, keserakahan, atau keberanian.

Contoh cerita fabel antara lain:

  • Cerita Si Kancil.

  • Cerita Kebo.

  • Cerita Semut.

Melalui fabel, anak-anak dapat belajar membedakan perilaku yang baik dan buruk sekaligus memahami akibat dari setiap tindakan.

4. Sage

Sage adalah dongeng yang menceritakan kisah kepahlawanan, perjuangan, keberanian, kesaktian, atau perjalanan hidup seorang tokoh yang dianggap memiliki keistimewaan.

Cerita sage biasanya menghadirkan tokoh yang memiliki keberanian dan kemampuan luar biasa. Kisah tersebut dapat memberikan inspirasi kepada pembaca mengenai nilai perjuangan, pengorbanan, keberanian, kesetiaan, dan kepemimpinan.

Contoh cerita sage antara lain:

  • Jaka Tingkir dari Jawa Tengah.

  • Ciung Wanara dari Jawa Barat.

  • Patih Gajah Mada dari Jawa Timur.

5. Dongeng Jenaka

Dongeng jenaka adalah cerita yang mengandung unsur humor dan bertujuan membuat pembaca atau pendengarnya tertawa. Ceritanya biasanya menghadirkan tokoh dengan tingkah laku lucu, kejadian yang menggelikan, atau situasi yang tidak terduga.

Meskipun tujuan utamanya adalah menghibur, dongeng jenaka juga dapat mengandung kritik atau pesan tertentu yang disampaikan melalui humor.

Salah satu contoh cerita jenaka yang terkenal adalah Cerita Kabayan. Tokoh Kabayan sering digambarkan memiliki tingkah laku unik dan lucu sehingga cerita tentang dirinya dapat menghibur pembaca sekaligus menyampaikan gambaran kehidupan masyarakat.

6. Cerita Pelipur Lara

Cerita pelipur lara merupakan jenis dongeng yang pada umumnya berbentuk narasi dan memiliki tujuan utama untuk menghibur pendengar. Pada masa lalu, cerita semacam ini sering digunakan untuk menghibur tamu dalam suatu pesta atau kegiatan masyarakat.

Cerita pelipur lara biasanya disampaikan oleh seseorang yang memiliki kemampuan khusus dalam bercerita. Pendongeng perlu memiliki kemampuan mengolah suara, ekspresi, dan alur cerita agar pendengar tertarik mengikuti kisah yang disampaikan.

7. Cerita Perumpamaan

Cerita perumpamaan adalah dongeng yang menggunakan kiasan atau perbandingan untuk menyampaikan suatu pesan. Cerita ini tidak selalu menyampaikan maksud secara langsung, tetapi menggunakan peristiwa, tokoh, atau keadaan tertentu sebagai gambaran terhadap suatu nilai kehidupan.

Dengan menggunakan kiasan, pesan dalam cerita dapat disampaikan secara lebih menarik. Pembaca atau pendengar perlu memahami hubungan antara cerita dengan makna yang ingin disampaikan.

Cerita perumpamaan dapat digunakan untuk menyampaikan nasihat mengenai kehidupan, perilaku manusia, hubungan sosial, maupun nilai moral.

8. Parabel

Selain pembagian di atas, Damariswara (2018) serta Saidah dan Damariswara (2019) menyebutkan bahwa dongeng dapat dibagi menjadi lima jenis, yaitu fabel, legenda, mite, sage, dan parabel.

Parabel adalah cerita yang mengandung ajaran atau pesan keagamaan. Cerita parabel biasanya menggunakan peristiwa dan tokoh tertentu untuk menyampaikan nilai-nilai yang berkaitan dengan kehidupan beragama dan moral.

Dengan demikian, parabel memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menghibur. Cerita ini dapat menjadi sarana untuk menyampaikan nasihat, keteladanan, dan ajaran tentang perilaku yang baik dalam kehidupan.

Perbedaan Jenis-Jenis Dongeng

Agar lebih mudah dipahami, perbedaan beberapa jenis dongeng dapat dilihat berdasarkan ciri utamanya:

Jenis DongengCiri UtamaContoh
Mitos/MiteBerkaitan dengan alam gaib, kepercayaan, atau benda magisNyi Roro Kidul
LegendaMenceritakan asal-usul suatu tempat atau daerahRawa Pening
FabelTokoh utamanya berupa binatangSi Kancil
SageMengisahkan kepahlawanan dan perjuanganJaka Tingkir
JenakaMengandung humor dan bertujuan menghiburKabayan
Pelipur LaraBertujuan menghibur pendengar melalui ceritaCerita penghibur dalam pesta
PerumpamaanMenggunakan kiasan untuk menyampaikan pesanCerita bernilai nasihat
ParabelMengandung ajaran atau pesan keagamaanCerita bernilai keagamaan

Manfaat Mempelajari Jenis-Jenis Dongeng

Mengenal berbagai jenis dongeng memiliki banyak manfaat, terutama bagi peserta didik. Dengan mengetahui perbedaan setiap jenis dongeng, siswa dapat lebih mudah memahami isi dan karakteristik sebuah cerita.

Beberapa manfaat mempelajari jenis-jenis dongeng antara lain:

  1. Menambah pengetahuan tentang sastra tradisional.

  2. Mengenalkan keragaman budaya Indonesia.

  3. Mengembangkan kemampuan memahami isi cerita.

  4. Menumbuhkan minat membaca dan mendengarkan cerita.

  5. Mengembangkan imajinasi dan kreativitas.

  6. Menanamkan nilai-nilai moral dan karakter.

  7. Mengenalkan berbagai cerita rakyat dari daerah di Indonesia.

  8. Melestarikan tradisi lisan dan kekayaan budaya bangsa.

Kesimpulan

Bentuk dan jenis dongeng sangat beragam. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari isi cerita, tokoh, latar, tujuan, serta pesan yang disampaikan. Jenis dongeng yang umum dikenal antara lain mitos, legenda, fabel, sage, jenaka, pelipur lara, cerita perumpamaan, dan parabel.

Setiap jenis memiliki karakteristik masing-masing. Mitos berkaitan dengan kepercayaan dan alam gaib, legenda menceritakan asal-usul suatu daerah, fabel menggunakan binatang sebagai tokoh, sage mengangkat kisah kepahlawanan, dongeng jenaka menghibur melalui humor, pelipur lara bertujuan menghibur pendengar, cerita perumpamaan menggunakan kiasan, sedangkan parabel mengandung ajaran keagamaan.

Dengan mempelajari berbagai jenis dongeng, peserta didik tidak hanya memperoleh hiburan, tetapi juga dapat mengenal budaya, mengembangkan imajinasi, serta memahami berbagai nilai moral yang terkandung di dalam cerita. Oleh karena itu, dongeng perlu terus dipelajari dan dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan sastra dan budaya Indonesia.

Table of contents

0Comments

Form
Link copied successfully