GUW0GUzoGSOpGSr0TUz9GfY0Gi==

Headline:

Sudut Pandang (Point of View) dalam Cerita Cekak


Sudut Pandang (Point of View) dalam Cerita Cekak

Sudut pandang (point of view) merupakan salah satu unsur penting dalam penulisan cerita cekak (cerkak). Sudut pandang menentukan posisi penulis atau narator dalam menyampaikan cerita kepada pembaca. Melalui pemilihan sudut pandang yang tepat, penulis dapat menentukan dari sisi siapa sebuah peristiwa diceritakan dan bagaimana pembaca memperoleh informasi mengenai tokoh maupun kejadian dalam cerita.

Dalam Bahasa Jawa, sudut pandang dapat disampaikan melalui bentuk aku-an, kamu-an, dan dia-an, serta dapat pula menggunakan sudut pandang omnipoten atau serba tahu.

1. Pengertian Sudut Pandang

Sudut pandang adalah teknik pengungkapan cerita yang menunjukkan posisi penulis atau narator dalam menceritakan sebuah kisah.

Pemilihan sudut pandang akan memengaruhi cara pembaca memahami cerita. Cerita yang sama dapat memberikan kesan berbeda apabila diceritakan menggunakan sudut pandang yang berbeda.

Misalnya, sebuah peristiwa tentang seorang anak yang mengikuti perlombaan dapat diceritakan menggunakan kata “aku”, “dheweke”, atau bahkan “kowe”. Perbedaan tersebut membuat posisi narator dan hubungan antara cerita dengan pembaca menjadi berbeda.

Oleh karena itu, sebelum menulis cerkak, penulis sebaiknya menentukan sudut pandang yang akan digunakan agar penyampaian cerita tetap konsisten.

2. Sudut Pandang Orang Pertama: Aku-an

Sudut pandang orang pertama (aku-an) menggunakan tokoh “aku” sebagai pencerita. Dalam sudut pandang ini, cerita disampaikan dari pengalaman atau pengamatan tokoh yang menggunakan kata aku.

Contoh:

Aku mlaku alon menyang sekolah. Esuk iku aku rumangsa rada kuwatir amarga dina iki bakal ana lomba maca geguritan.

Pada contoh tersebut, pembaca mengikuti peristiwa melalui sudut pandang tokoh “aku”. Informasi yang disampaikan terutama berkaitan dengan apa yang dialami, dilihat, dipikirkan, dan dirasakan oleh tokoh tersebut.

Sudut pandang aku-an sering digunakan oleh penulis pemula karena relatif mudah diterapkan. Penulis dapat membayangkan dirinya sebagai tokoh yang sedang mengalami berbagai peristiwa dalam cerita.

Apakah sudut pandang “aku” berarti pengalaman pribadi?

Tidak selalu.

Penggunaan kata “aku” dalam cerkak tidak otomatis berarti cerita tersebut merupakan pengalaman nyata penulis. Penulis dapat menciptakan tokoh fiktif yang menggunakan kata “aku” sebagai pencerita.

Dengan demikian, penulis tetap dapat menggunakan sudut pandang orang pertama untuk menceritakan kisah yang sepenuhnya merupakan hasil imajinasi.

3. Sudut Pandang Orang Ketiga: Dia-an

Sudut pandang orang ketiga (dia-an) menggunakan tokoh seperti “dheweke”, “ia”, atau nama tokoh sebagai pusat penceritaan.

Contoh:

Dheweke mlaku alon menyang sekolah. Esuk iku Raka rumangsa rada kuwatir amarga dina iki bakal ana lomba maca geguritan.

Dalam contoh tersebut, narator berada di luar cerita dan menceritakan apa yang dilakukan oleh Raka. Tokoh tidak menyebut dirinya sebagai “aku”, melainkan diceritakan oleh narator menggunakan bentuk orang ketiga.

Sudut pandang dia-an memberikan ruang kepada penulis untuk menceritakan tokoh dari luar. Penulis dapat menggambarkan tindakan, penampilan, dan perilaku tokoh dengan lebih leluasa.

4. Sudut Pandang Orang Kedua: Kamu-an

Sudut pandang orang kedua (kamu-an atau engkau-an) menggunakan kata yang merujuk kepada pembaca atau tokoh yang diajak berbicara, seperti “kowe”, “kamu”, atau “engkau”.

Contoh:

Kowe mlaku alon menyang sekolah. Esuk iku atimu kebak rasa kuwatir amarga dina iki bakal ana lomba maca geguritan.

Dalam bentuk ini, pembaca seolah-olah diajak masuk ke dalam cerita dan menjadi bagian dari peristiwa yang diceritakan.

Sudut pandang orang kedua dapat memberikan kesan yang lebih dekat dan langsung. Namun, penggunaannya perlu dilakukan secara hati-hati agar tetap terasa alami dan tidak membingungkan pembaca.

5. Sudut Pandang Omnipoten atau Serba Tahu

Sudut pandang omnipoten (serba tahu) merupakan sudut pandang ketika narator memiliki pengetahuan yang luas mengenai berbagai tokoh dan peristiwa dalam cerita.

Narator dapat mengetahui apa yang dilakukan tokoh, apa yang dipikirkan, bahkan apa yang dirasakan oleh beberapa tokoh.

Contohnya:

Raka mlaku menyang sekolah kanthi ati kebak rasa kuwatir. Dheweke wedi yen ora bisa tampil kanthi apik. Ing wektu sing padha, Sinta sing wis teka luwih dhisik ing sekolah uga lagi nyiapake geguritan sing bakal diwaca. Sinta sejatine yakin yen Raka bisa tampil kanthi apik, sanajan Raka dhewe durung percaya marang kemampuane.

Dalam contoh tersebut, narator mengetahui keadaan batin lebih dari satu tokoh. Narator mengetahui kekhawatiran Raka sekaligus mengetahui pikiran dan keyakinan Sinta.

Kemampuan tersebut membuat sudut pandang serba tahu memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan cerita dan memperlihatkan berbagai sisi dari sebuah peristiwa.

6. Perbandingan Empat Sudut Pandang

Keempat sudut pandang tersebut dapat dipahami melalui contoh sederhana mengenai seorang anak yang mengikuti perlombaan.

Sudut PandangKata yang DigunakanContoh
Orang pertamaAkuAku rumangsa gugup sadurunge lomba diwiwiti.”
Orang ketigaDheweke/diaDheweke rumangsa gugup sadurunge lomba diwiwiti.”
Orang keduaKowe/kamuKowe rumangsa gugup sadurunge lomba diwiwiti.”
Serba tahuNarator mengetahui berbagai tokoh“Raka gugup, dene Sinta yakin Raka bisa tampil apik.”

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pemilihan sudut pandang akan menentukan cara sebuah cerita disampaikan.

7. Memilih Sudut Pandang yang Tepat

Tidak ada satu sudut pandang yang harus digunakan untuk semua cerkak. Setiap jenis memiliki fungsi dan karakteristik yang berbeda.

Jika ingin menceritakan pengalaman dari perspektif seorang tokoh, sudut pandang aku-an dapat menjadi pilihan. Jika ingin menceritakan tokoh dari luar, dia-an dapat digunakan. Jika ingin menciptakan hubungan langsung antara cerita dan pembaca, kamu-an dapat dipertimbangkan. Sementara itu, sudut pandang serba tahu memberikan keleluasaan kepada narator untuk mengetahui berbagai sisi tokoh dan peristiwa.

Yang paling penting adalah konsistensi. Setelah memilih sudut pandang, penulis perlu mempertahankannya sepanjang cerita agar pembaca tidak bingung mengenai siapa yang sedang menceritakan kisah.

8. Sudut Pandang dan Keterlibatan Pembaca

Sudut pandang juga dapat memengaruhi kedekatan emosional pembaca dengan cerita. Sudut pandang aku-an, misalnya, dapat membuat pembaca merasa lebih dekat dengan pengalaman tokoh karena cerita disampaikan secara langsung.

Sementara itu, sudut pandang orang ketiga dapat memberikan jarak tertentu sehingga pembaca dapat mengamati tokoh dari luar. Sudut pandang serba tahu bahkan memungkinkan pembaca memahami berbagai tokoh dan keadaan yang tidak diketahui oleh tokoh tertentu.

Oleh karena itu, sudut pandang bukan hanya persoalan penggunaan kata “aku”, “kowe”, atau “dheweke”. Sudut pandang merupakan strategi bercerita yang menentukan informasi apa yang diberikan kepada pembaca dan dari posisi mana cerita tersebut disampaikan.

Penutup

Sudut pandang merupakan unsur penting dalam cerita cekak karena menentukan posisi narator dalam mengungkapkan cerita. Secara umum, sudut pandang dapat berupa orang pertama (aku-an), orang kedua (kamu-an), orang ketiga (dia-an), dan omnipoten atau serba tahu.

Penggunaan sudut pandang orang pertama memang sering ditemukan dalam tulisan pemula, tetapi penggunaan kata “aku” tidak berarti cerita tersebut merupakan pengalaman pribadi penulis. Cerita fiksi pun dapat menggunakan tokoh “aku” sebagai pencerita.

Dengan memahami berbagai jenis sudut pandang, peserta didik dapat memilih cara bercerita yang sesuai dengan gagasan dan karakter cerkak yang ingin dibuat. Pemilihan yang tepat dan penggunaan yang konsisten akan membantu menghasilkan cerita yang jelas, menarik, dan mampu membawa pembaca mengikuti kisah dari perspektif yang telah dipilih.

Table of contents

0Comments

Form
Link copied successfully