GUW0GUzoGSOpGSr0TUz9GfY0Gi==

Headline:

Menyiapkan Materi atau Naskah Dongeng

Menyiapkan Materi atau Naskah Dongeng

Salah satu tahap penting dalam kegiatan mendongeng adalah menyiapkan materi atau naskah dongeng. Naskah menjadi pedoman bagi pendongeng dalam menyampaikan cerita agar alurnya runtut, tokohnya jelas, dan pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

Naskah dongeng dapat dibuat berdasarkan imajinasi sendiri maupun diadaptasi dari berbagai sumber. Namun, dalam memilih atau menyusun dongeng untuk peserta didik, guru atau pendongeng perlu mempertimbangkan usia, perkembangan, kemampuan memahami bahasa, serta nilai-nilai yang terkandung dalam cerita.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyiapkan materi atau naskah dongeng adalah sebagai berikut.

1. Menentukan Sumber Dongeng

Sumber dongeng dapat berasal dari karangan atau imajinasi sendiri maupun dari sumber lain. Agus (2009:61) menyebutkan bahwa dongeng dapat bersumber dari berbagai media dan bahan cerita, seperti buku, film, dongeng legenda, dan sumber lainnya.

a. Karangan atau Imajinasi Sendiri

Pendongeng dapat menciptakan cerita berdasarkan pengalaman, pengamatan terhadap lingkungan, maupun imajinasi. Cara ini memberikan kebebasan untuk menentukan tema, tokoh, alur, latar, dan pesan moral sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Misalnya, guru dapat membuat cerita fabel tentang seekor Kancil, Kura-kura, dan Burung yang hidup di sebuah desa. Cerita tersebut dapat dikembangkan berdasarkan kondisi lingkungan sekitar dan nilai karakter yang ingin ditanamkan kepada siswa.

Keuntungan membuat cerita sendiri adalah isi dongeng dapat disesuaikan secara khusus dengan kebutuhan peserta didik.

b. Mengadaptasi dari Sumber Lain

Dongeng juga dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti:

  • Buku cerita anak.

  • Majalah.

  • Film.

  • Cerita rakyat.

  • Legenda.

  • Mite atau mitos.

  • Fabel.

  • Sumber pembelajaran lainnya.

Jika menggunakan cerita dari sumber lain, pendongeng dapat melakukan penyesuaian terhadap bahasa, panjang cerita, karakter tokoh, maupun bagian tertentu agar sesuai dengan usia dan kebutuhan siswa.

Pemilihan cerita juga sebaiknya mempertimbangkan minat peserta didik. Menurut penelitian Subyantoro (2013:144), terdapat kecenderungan pilihan cerita tradisional yang berbeda berdasarkan lingkungan tempat tinggal. Siswa SD dan SMP yang berdomisili di perkotaan cenderung menyukai cerita tradisional berjenis legenda, sedangkan siswa yang tinggal di wilayah pinggiran lebih menyukai cerita tradisional berjenis mite.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa latar belakang lingkungan peserta didik dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih materi dongeng. Namun, pilihan cerita tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik, kebutuhan, dan konteks pembelajaran masing-masing peserta didik.

2. Sesuaikan dengan Perkembangan Siswa

Isi dongeng harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan usia peserta didik. Cerita yang terlalu rumit atau mengandung materi yang belum sesuai dengan perkembangan anak dapat membuat siswa kesulitan memahami cerita.

Hana (2011:38) menjelaskan bahwa isi dongeng hendaknya memuat nilai pendidikan, membangun karakter, tidak melanggar norma, memotivasi, menginspirasi, dan menghibur.

Dengan demikian, ketika memilih atau menyusun naskah dongeng, guru perlu memastikan bahwa cerita:

  • Sesuai dengan usia siswa.

  • Mudah dipahami.

  • Mengandung nilai pendidikan.

  • Membantu membangun karakter.

  • Tidak bertentangan dengan norma yang berlaku.

  • Memberikan motivasi.

  • Menginspirasi peserta didik.

  • Tetap memberikan hiburan.

Contoh Nilai Pendidikan dalam Dongeng

Dongeng dapat digunakan untuk menanamkan berbagai karakter positif, seperti:

  • Kejujuran.

  • Tanggung jawab.

  • Kedisiplinan.

  • Keberanian.

  • Kesabaran.

  • Kemandirian.

  • Kerja sama.

  • Kepedulian.

  • Saling menghargai.

  • Suka menolong.

Misalnya, dongeng tentang seekor Semut yang rajin bekerja dapat digunakan untuk mengenalkan nilai kerja keras dan tanggung jawab. Sementara cerita tentang persahabatan beberapa hewan dapat digunakan untuk menanamkan nilai kerja sama dan saling menghargai.

3. Perhatikan Alur Cerita

Alur merupakan rangkaian peristiwa yang membentuk jalan cerita. Dalam menyiapkan naskah dongeng untuk siswa, sebaiknya digunakan alur yang sederhana dan tidak membingungkan.

Alur sederhana membuat siswa lebih mudah mengikuti hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa berikutnya.

Secara umum, alur dapat disusun dengan pola:

Pengenalan → Masalah → Perkembangan Konflik → Penyelesaian → Penutup

Contohnya, cerita dapat diawali dengan pengenalan seekor Kancil yang tinggal di hutan. Kemudian muncul masalah ketika persediaan makanan mulai habis. Kancil berusaha mencari solusi dan akhirnya menemukan cara untuk menyelesaikan masalah tersebut. Cerita kemudian ditutup dengan keadaan yang lebih baik dan pesan moral.

Untuk pembelajaran mendongeng bagi anak, alur maju dapat menjadi pilihan yang baik karena peristiwa disampaikan sesuai urutan waktu. Dengan demikian, siswa lebih mudah memahami apa yang terjadi terlebih dahulu dan apa yang terjadi setelahnya.

4. Gunakan Bahasa yang Sederhana

Bahasa merupakan bagian penting dalam naskah dongeng. Bahasa yang digunakan sebaiknya sederhana dan sesuai dengan tingkat pemahaman siswa.

Kalimat yang terlalu panjang, istilah yang sulit, atau penggunaan bahasa yang terlalu kompleks dapat membuat anak kehilangan fokus terhadap cerita.

Bahasa sederhana bukan berarti cerita harus dibuat membosankan. Penulis tetap dapat menggunakan kata-kata yang menarik, dialog, ungkapan, dan majas sederhana untuk menghidupkan cerita.

Contohnya:

"Kancil berjalan menyusuri hutan. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah sungai."

Kalimat tersebut sederhana, tetapi tetap memberikan gambaran tentang tokoh, tempat, dan suasana.

Tips Menggunakan Bahasa dalam Dongeng

Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Gunakan kosakata yang dikenal siswa.

  2. Buat kalimat tidak terlalu panjang.

  3. Gunakan dialog untuk menghidupkan cerita.

  4. Hindari istilah yang terlalu sulit.

  5. Jelaskan istilah baru jika memang diperlukan.

  6. Gunakan kata-kata yang menggambarkan suasana.

  7. Sesuaikan bahasa dengan usia dan kemampuan membaca siswa.

Jika dongeng ditujukan untuk siswa di daerah tertentu, penggunaan bahasa daerah juga dapat dipertimbangkan selama sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kemampuan peserta didik. Hal tersebut sekaligus dapat menjadi sarana untuk mengenalkan dan melestarikan bahasa serta budaya daerah.

5. Perhatikan Nilai dan Pesan dalam Cerita

Sebelum naskah digunakan, guru atau pendongeng perlu mengetahui pesan utama yang ingin disampaikan kepada siswa.

Pesan moral sebaiknya tidak hanya ditempelkan pada bagian akhir cerita, tetapi tercermin melalui tindakan dan pengalaman tokoh. Dengan demikian, siswa dapat memahami nilai yang terkandung dalam cerita melalui proses yang alami.

Sebagai contoh, jika pesan yang ingin disampaikan adalah pentingnya kejujuran, maka konflik cerita dapat menunjukkan bagaimana kebohongan menyebabkan masalah dan bagaimana kejujuran membantu menyelesaikannya.

Pesan moral juga dapat disampaikan secara tersurat maupun tersirat sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.

6. Pastikan Dongeng Menarik dan Menghibur

Selain mendidik, dongeng harus tetap menarik dan menghibur. Cerita yang hanya berisi nasihat tanpa unsur hiburan dapat membuat siswa cepat kehilangan perhatian.

Untuk membuat cerita lebih menarik, naskah dapat dilengkapi dengan:

  • Tokoh yang unik.

  • Konflik yang sederhana tetapi menarik.

  • Dialog antartokoh.

  • Peristiwa yang tidak terduga.

  • Humor yang sesuai dengan usia anak.

  • Deskripsi suasana.

  • Unsur imajinasi.

  • Penyelesaian yang memberikan kepuasan kepada pendengar.

Kemenarikan cerita juga akan membantu pendongeng ketika menggunakan variasi suara, ekspresi, dan gerakan saat menyampaikan dongeng.

7. Lakukan Penyuntingan Naskah

Setelah naskah selesai dibuat atau dipilih, lakukan penyuntingan sebelum digunakan dalam kegiatan mendongeng.

Beberapa hal yang perlu diperiksa antara lain:

  • Apakah judul sesuai dengan isi cerita?

  • Apakah tokoh mudah dikenali?

  • Apakah alur cerita runtut?

  • Apakah konflik mudah dipahami?

  • Apakah penyelesaian cerita jelas?

  • Apakah bahasa sesuai dengan usia siswa?

  • Apakah terdapat pesan moral?

  • Apakah isi cerita sesuai dengan nilai pendidikan?

  • Apakah terdapat bagian yang tidak sesuai untuk anak?

  • Apakah cerita cukup menarik untuk didongengkan?

Tahap penyuntingan membantu memastikan bahwa naskah benar-benar siap digunakan.

Contoh Rancangan Naskah Dongeng

Sebagai contoh, guru ingin menyiapkan dongeng fabel bertema kejujuran.

Judul: Kancil yang Mengembalikan Buah

Tokoh: Kancil, Kera, dan Burung.

Latar: Kebun dan hutan.

Alur:
Kancil menemukan sekeranjang buah di dekat kebun. Ia sangat ingin memakannya. Namun, Kancil mengetahui bahwa buah tersebut bukan miliknya. Ia kemudian bertanya kepada hewan-hewan di sekitar untuk menemukan pemiliknya. Setelah mengetahui bahwa buah tersebut milik Kera, Kancil mengembalikannya.

Pesan moral:
Barang yang bukan milik kita harus dikembalikan. Kejujuran membuat kita dipercaya dan dihargai oleh orang lain.

Cerita tersebut memiliki alur sederhana, tokoh yang mudah dikenali, bahasa yang dapat disesuaikan dengan usia siswa, serta pesan moral yang jelas.

Checklist Menyiapkan Naskah Dongeng

Sebelum digunakan untuk mendongeng, guru atau pendongeng dapat menggunakan daftar periksa berikut:

AspekPertanyaan
SumberApakah sumber cerita jelas dan sesuai?
TemaApakah tema sesuai dengan tujuan pembelajaran?
TokohApakah tokoh menarik dan mudah dikenali?
AlurApakah jalan cerita sederhana dan runtut?
BahasaApakah bahasa sesuai dengan kemampuan siswa?
Nilai PendidikanApakah cerita memberikan pembelajaran positif?
KarakterApakah cerita membantu membangun karakter?
Pesan MoralApakah amanat cerita dapat dipahami?
KesesuaianApakah isi cerita sesuai dengan perkembangan siswa?
KemenarikanApakah cerita menghibur dan menarik untuk didongengkan?

Kesimpulan

Menyiapkan materi atau naskah merupakan salah satu tahap penting sebelum kegiatan mendongeng dilakukan. Dongeng dapat berasal dari karangan atau imajinasi sendiri maupun dari berbagai sumber, seperti buku, film, legenda, dan cerita rakyat lainnya.

Dalam memilih atau menyusun naskah, guru perlu mempertimbangkan tingkat perkembangan siswa, nilai pendidikan, pembentukan karakter, kesesuaian dengan norma, serta unsur motivasi, inspirasi, dan hiburan. Alur yang sederhana dan runtut akan membantu siswa mengikuti cerita dengan lebih mudah, sedangkan bahasa yang sederhana dan sesuai tingkat pemahaman siswa akan membuat pesan cerita lebih mudah diterima.

Naskah dongeng yang baik bukan hanya memiliki cerita yang menarik, tetapi juga mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna. Dengan persiapan yang matang, kegiatan mendongeng dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, imajinasi, kreativitas, karakter, serta kecintaan peserta didik terhadap cerita dan budaya.

Table of contents

0Comments

Form
Link copied successfully