Latar dan Pelataran dalam Cerita Cekak
Latar dan pelataran merupakan unsur penting dalam membangun sebuah cerita cekak (cerkak). Jika tokoh berperan sebagai pelaku dan alur menjadi rangkaian peristiwa, maka latar memberikan gambaran mengenai di mana, kapan, dan dalam keadaan seperti apa peristiwa tersebut berlangsung. Kehadiran latar membuat cerita terasa lebih nyata, hidup, dan mudah dibayangkan oleh pembaca.
Pelataran memiliki peran yang lebih jauh. Melalui pelataran, penulis tidak hanya menyebutkan tempat atau waktu, tetapi juga menggambarkan keadaan secara lebih mendalam sehingga pembaca dapat merasakan suasana yang dibangun dalam cerita.
1. Pengertian Latar
Latar atau setting adalah keterangan mengenai tempat dan keadaan ketika sebuah cerita berlangsung. Latar membantu pembaca mengetahui lingkungan tempat tokoh berada serta situasi yang melingkupi berbagai peristiwa dalam cerita.
Latar dapat berupa tempat yang sederhana seperti rumah atau sekolah, tetapi juga dapat mencakup wilayah geografis yang lebih luas, waktu tertentu, maupun kondisi sosial masyarakat.
Dalam cerkak, latar sebaiknya dipilih sesuai dengan kebutuhan cerita. Latar yang tepat dapat mendukung karakter tokoh, memperkuat konflik, dan membuat rangkaian peristiwa terasa lebih masuk akal.
2. Jenis-Jenis Latar
Latar dalam cerita dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu latar fisik, latar geografis, latar waktu, dan latar suasana atau situasi sosial.
a. Latar Fisik
Latar fisik merupakan tempat konkret yang menjadi lokasi terjadinya peristiwa dalam cerita. Tempat tersebut dapat berupa:
rumah;
sekolah;
kantor;
pasar;
terminal;
halaman;
jalan;
taman; atau
tempat lainnya.
Misalnya, sebuah cerkak menceritakan seorang anak yang kehilangan buku di sekolah. Maka ruang kelas, perpustakaan, halaman, dan lingkungan sekolah dapat digunakan sebagai latar fisik.
Penggambaran tempat secara tepat membantu pembaca membayangkan lokasi kejadian.
b. Latar Geografis
Latar geografis berkaitan dengan lingkungan atau wilayah yang menjadi tempat berlangsungnya cerita. Contohnya antara lain:
kampung;
desa;
gunung;
sawah;
pantai;
sungai;
kota; atau
daerah tertentu.
Latar geografis dapat memberikan ciri khas terhadap cerita. Cerita yang berlangsung di kawasan persawahan, misalnya, dapat menghadirkan gambaran tanaman padi, pematang sawah, suara burung, atau aktivitas petani.
Sebaliknya, cerita yang berlangsung di kawasan perkotaan dapat menghadirkan suasana jalan yang ramai, gedung-gedung, kendaraan, dan berbagai aktivitas masyarakat.
3. Latar Waktu
Latar waktu menunjukkan kapan suatu peristiwa berlangsung. Latar waktu dapat berupa waktu dalam satu hari, musim, tahun, maupun periode sejarah tertentu.
Contoh latar waktu sederhana antara lain:
pagi;
siang;
sore;
malam;
tengah malam.
Latar waktu juga dapat menunjukkan periode tertentu dalam sejarah atau kehidupan masyarakat. Dengan adanya keterangan waktu, pembaca dapat memahami kondisi yang melingkupi peristiwa dalam cerita.
Misalnya, sebuah cerita mengambil latar pada masa perang kemerdekaan. Kondisi kehidupan masyarakat pada masa tersebut tentu berbeda dengan kehidupan masyarakat pada masa sekarang. Perbedaan zaman tersebut dapat memengaruhi tokoh, konflik, suasana, maupun peristiwa dalam cerita.
4. Latar Suasana dan Situasi Sosial
Selain tempat dan waktu, cerita juga membutuhkan latar suasana atau situasi sosial. Latar ini menggambarkan keadaan masyarakat atau kondisi sosial yang melingkupi tokoh.
Situasi sosial dapat berkaitan dengan suatu masa atau peristiwa tertentu, misalnya masa pagebluk atau wabah, masa perang, masa perjuangan kemerdekaan, maupun periode sejarah lainnya.
Latar sosial membantu pembaca memahami mengapa tokoh berpikir, bersikap, dan bertindak dengan cara tertentu. Keadaan masyarakat dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan tokoh sekaligus menjadi bagian dari konflik cerita.
5. Pengertian Pelataran
Jika latar memberikan informasi mengenai tempat, waktu, dan keadaan cerita, pelataran merupakan penggambaran keadaan yang disampaikan secara lebih intensif oleh penulis.
Pelataran membuat suatu latar tidak sekadar menjadi informasi. Penulis berusaha menghadirkan detail suasana sehingga pembaca dapat membayangkan keadaan secara lebih nyata.
Sebagai contoh, penulis tidak hanya mengatakan:
“Raka berada di sawah.”
Kalimat tersebut hanya memberikan informasi mengenai tempat. Pelataran dapat dikembangkan menjadi gambaran yang lebih hidup, misalnya dengan menggambarkan hamparan tanaman padi, udara pagi, suara burung, embun yang masih menempel di daun, serta suara petani yang mulai bekerja.
Melalui penggambaran tersebut, pembaca tidak hanya mengetahui bahwa cerita berlangsung di sawah, tetapi juga dapat membayangkan suasana sawah tersebut.
6. Pelataran Membangun Suasana Cerita
Pelataran memiliki fungsi penting dalam membangun suasana. Penulis dapat menggunakan berbagai detail untuk menciptakan suasana bahagia, sedih, tegang, menakutkan, damai, atau haru.
Misalnya, untuk menciptakan suasana menegangkan, penulis dapat menggambarkan keadaan malam yang sunyi, jalan yang sepi, suara langkah kaki, atau angin yang bertiup perlahan. Sebaliknya, untuk menciptakan suasana menyenangkan, penulis dapat menggambarkan cahaya matahari, tawa anak-anak, suara burung, dan lingkungan yang ramai.
Pemilihan detail tersebut membuat pembaca lebih mudah memahami emosi yang ingin dibangun penulis.
7. Membuat Pembaca Terlibat dalam Cerita
Salah satu kekuatan pelataran adalah kemampuannya membuat pembaca terlibat secara emosional. Ketika suatu keadaan digambarkan dengan baik, pembaca seakan-akan dapat melihat, mendengar, atau merasakan peristiwa yang dialami tokoh.
Pembaca tidak lagi sekadar membaca informasi bahwa tokoh sedang berada dalam suatu tempat. Mereka dapat membayangkan lingkungan, merasakan suasana, dan mengikuti pengalaman tokoh secara lebih dekat.
Hal inilah yang membuat sebuah cerita terasa hidup. Pelataran yang kuat dapat membuat pembaca seolah-olah menjadi bagian dari kisah yang sedang dituturkan.
8. Latar dan Pelataran dalam Menulis Cerkak
Dalam menulis cerkak, latar dan pelataran sebaiknya digunakan secara seimbang. Penulis tidak perlu menggambarkan setiap tempat secara berlebihan. Detail yang dipilih sebaiknya mendukung cerita dan memiliki fungsi.
Misalnya, apabila tokoh sedang menghadapi konflik di sebuah rumah, penulis dapat memilih beberapa detail yang memperkuat suasana konflik tersebut. Jika suasananya sedih, detail lingkungan dapat dipilih untuk mendukung kesedihan tokoh.
Dengan demikian, latar bukan sekadar pelengkap, melainkan dapat membantu:
memperjelas tempat dan waktu cerita;
membangun suasana;
memperkuat karakter tokoh;
mendukung perkembangan alur;
memperkuat konflik;
menciptakan gambaran yang lebih nyata; dan
membuat pembaca lebih terlibat dalam cerita.
Penutup
Latar dan pelataran merupakan unsur yang saling berkaitan dalam sebuah cerita cekak. Latar memberikan informasi mengenai tempat, waktu, dan situasi sosial, sedangkan pelataran menghadirkan gambaran keadaan tersebut secara lebih intensif sehingga suasana cerita menjadi lebih hidup.
Melalui latar yang tepat dan pelataran yang kuat, pembaca dapat membayangkan tempat kejadian, memahami kondisi sosial, merasakan suasana, serta mengikuti pengalaman tokoh dengan lebih mendalam. Oleh karena itu, dalam menulis cerkak, peserta didik perlu belajar tidak hanya menyebutkan di mana dan kapan sebuah peristiwa terjadi, tetapi juga bagaimana keadaan tempat dan suasana tersebut dirasakan oleh tokoh dan pembaca.
Dengan penggambaran yang tepat, latar dan pelataran dapat menjadikan cerkak lebih hidup, menarik, dan mampu membangun keterlibatan emosional pembaca.

0Comments