GUW0GUzoGSOpGSr0TUz9GfY0Gi==

Headline:

Dua Cara Mendongeng di Kelas

Dua Cara Mendongeng di Kelas

Mendongeng merupakan kegiatan yang dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik. Melalui dongeng, guru dapat menyampaikan cerita sekaligus mengembangkan kemampuan menyimak, berbicara, berimajinasi, berekspresi, serta menanamkan nilai-nilai karakter.

Dalam praktiknya, mendongeng di kelas dapat dilakukan dengan berbagai teknik sesuai dengan kreativitas guru dan kondisi pembelajaran. Salah satu pembagian yang sederhana adalah mendongeng dengan media dan mendongeng tanpa media.

Kedua cara tersebut memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing. Guru dapat memilih salah satunya atau mengombinasikan keduanya agar kegiatan mendongeng menjadi lebih menarik.

1. Mendongeng dengan Media

Mendongeng dengan media adalah kegiatan bercerita yang menggunakan alat bantu tertentu untuk mendukung penyampaian isi dongeng. Media dapat membantu pendongeng memperjelas cerita, menarik perhatian siswa, serta memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret.

Berbagai benda dapat digunakan sebagai media mendongeng, selama sesuai dengan cerita dan aman digunakan oleh peserta didik.

Jenis Media yang Dapat Digunakan

Beberapa media yang dapat digunakan dalam kegiatan mendongeng antara lain:

  • Buku cerita, sebagai sumber atau panduan dalam menyampaikan dongeng.

  • Boneka, seperti boneka tangan, boneka jari, atau boneka karakter untuk mewakili tokoh cerita.

  • Alat musik, untuk memberikan ilustrasi suara dan membangun suasana cerita.

  • Gambar, untuk membantu siswa membayangkan tokoh, tempat, atau peristiwa.

  • Peralatan di sekitar, seperti benda-benda sederhana yang tersedia di kelas atau lingkungan sekolah.

  • Kartu tokoh atau gambar, untuk memperkenalkan karakter dalam cerita.

  • Benda konkret lainnya, yang dapat digunakan sesuai kebutuhan cerita.

Contoh Penggunaan Media

Dalam dongeng tentang Kancil dan Buaya, guru dapat menggunakan boneka Kancil dan Buaya sebagai representasi tokoh. Ketika Kancil berbicara, guru menggerakkan boneka Kancil dan menggunakan suara yang berbeda. Ketika Buaya berbicara, guru menggunakan boneka Buaya dengan karakter suara yang berbeda pula.

Guru juga dapat menggunakan suara alat musik sederhana untuk menggambarkan suasana sungai, hutan, atau munculnya konflik dalam cerita.

Dengan cara tersebut, media tidak hanya menjadi hiasan, tetapi benar-benar digunakan untuk mendukung jalannya cerita.

Keunggulan Mendongeng dengan Media

Penggunaan media memiliki beberapa keunggulan, antara lain:

  1. Menarik perhatian siswa.
    Benda atau gambar yang digunakan dapat membuat siswa lebih fokus pada cerita.

  2. Membantu memperjelas cerita.
    Media visual dapat membantu siswa memahami tokoh dan peristiwa yang sedang diceritakan.

  3. Merangsang imajinasi.
    Siswa dapat menghubungkan benda yang dilihat dengan cerita yang sedang didengarkan.

  4. Menciptakan suasana yang menyenangkan.
    Boneka, gambar, maupun alat musik dapat membuat kegiatan menjadi lebih hidup.

  5. Memudahkan pendongeng menampilkan karakter.
    Media dapat membantu membedakan tokoh dan memperkuat adegan tertentu.

Hal yang Perlu Diperhatikan

Penggunaan media harus tetap disesuaikan dengan kebutuhan cerita. Media yang terlalu banyak justru dapat mengalihkan perhatian siswa dari isi dongeng.

Oleh karena itu, guru sebaiknya memilih media yang sederhana, relevan, aman, mudah digunakan, dan benar-benar mendukung cerita.

Perlu dibedakan pula antara alat peraga dan setting panggung. Alat peraga digunakan atau terdapat interaksi dengannya selama kegiatan mendongeng, sedangkan setting panggung lebih berfungsi sebagai dekorasi atau latar dan tidak digunakan secara langsung dalam cerita.


2. Mendongeng Tanpa Media

Mendongeng tanpa media adalah kegiatan bercerita yang tidak menggunakan alat bantu khusus. Pendongeng mengandalkan kemampuan dirinya dalam menyampaikan cerita melalui suara, ekspresi wajah, dan gerakan tubuh.

Cara ini menunjukkan bahwa mendongeng tidak selalu membutuhkan peralatan yang lengkap. Dengan kemampuan bercerita yang baik, guru dapat menghidupkan cerita hanya dengan menggunakan tubuh dan suara.

Unsur Utama Mendongeng Tanpa Media

Ada beberapa unsur penting yang perlu dikuasai ketika mendongeng tanpa media.

a. Vokal

Vokal menjadi salah satu unsur utama dalam mendongeng tanpa media. Guru perlu memainkan suara sesuai dengan karakter tokoh dan suasana cerita.

Variasi vokal dapat dilakukan melalui:

  • Intonasi, yaitu tinggi rendahnya suara.

  • Volume, yaitu keras atau lembutnya suara.

  • Tempo, yaitu cepat atau lambatnya berbicara.

  • Nada atau irama, yaitu variasi suara dalam menyampaikan kalimat.

Misalnya, suara tokoh yang sedang berbisik dapat dibuat lebih lembut, sedangkan tokoh yang sedang marah dapat menggunakan suara yang lebih tegas.

b. Ekspresi Wajah

Ekspresi wajah atau mimik digunakan untuk menunjukkan perasaan tokoh dan suasana cerita.

Guru dapat menampilkan wajah:

  • Gembira.

  • Sedih.

  • Takut.

  • Terkejut.

  • Marah.

  • Bingung.

  • Khawatir.

Ekspresi yang sesuai dapat membantu siswa memahami emosi tokoh meskipun tidak ada media visual yang digunakan.

c. Gestur Tubuh

Gestur adalah gerakan tubuh yang digunakan untuk memperkuat penyampaian cerita. Gerakan tangan, kepala, tubuh, dan posisi berdiri dapat digunakan untuk menggambarkan tindakan tokoh.

Misalnya, guru dapat menirukan gerakan berjalan, berlari, melihat ke kejauhan, mengetuk pintu, atau mengangkat tangan sesuai dengan adegan yang sedang diceritakan.

Gestur yang tepat membuat cerita menjadi lebih hidup dan membantu siswa membangun gambaran dalam pikirannya.

Keunggulan Mendongeng Tanpa Media

Mendongeng tanpa media memiliki beberapa keunggulan, antara lain:

  1. Praktis dan sederhana.

  2. Tidak membutuhkan persiapan alat yang banyak.

  3. Dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja.

  4. Mendorong pendongeng mengembangkan kemampuan vokal dan ekspresi.

  5. Memberikan ruang yang luas bagi imajinasi pendengar.

  6. Memudahkan guru melakukan improvisasi.

Cara ini sangat cocok digunakan ketika guru ingin mendongeng secara spontan atau ketika media tidak tersedia.


3. Perbandingan Mendongeng dengan dan Tanpa Media

Kedua cara mendongeng tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.

AspekDengan MediaTanpa Media
Alat bantuMenggunakan buku, boneka, gambar, alat musik, atau benda lainTidak menggunakan alat bantu khusus
PersiapanMembutuhkan persiapan mediaPersiapannya relatif sederhana
Fokus pendongengSuara, ekspresi, gerakan, dan pengelolaan mediaSuara, ekspresi, dan gerakan tubuh
Daya tarik visualLebih banyak didukung mediaMengandalkan imajinasi dan penampilan pendongeng
FleksibilitasMenyesuaikan dengan media yang tersediaSangat fleksibel
Imajinasi siswaDibantu oleh visual atau benda konkretLebih banyak dibangun melalui cerita
KreativitasKreatif dalam memilih dan menggunakan mediaKreatif dalam vokal, ekspresi, dan gestur

Tidak ada satu cara yang selalu lebih baik daripada cara lainnya. Pilihan metode harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, isi cerita, kondisi kelas, dan kemampuan pendongeng.


4. Mengombinasikan Kedua Cara

Guru juga dapat menggabungkan mendongeng dengan media dan tanpa media dalam satu kegiatan. Misalnya, guru menggunakan buku atau satu boneka sebagai media utama, tetapi sebagian besar cerita disampaikan dengan mengandalkan vokal, ekspresi wajah, dan gestur.

Penggabungan tersebut dapat membuat kegiatan menjadi lebih dinamis. Media berfungsi sebagai penguat, sedangkan kemampuan pendongeng tetap menjadi bagian utama dalam menghidupkan cerita.

Sebagai contoh, ketika menceritakan dongeng tentang kehidupan hewan di hutan, guru dapat menggunakan beberapa gambar sebagai pengenalan tokoh. Setelah itu, guru melanjutkan cerita dengan mengandalkan perubahan suara dan ekspresi untuk membedakan karakter setiap tokoh.

Dengan demikian, penggunaan media tidak membuat pendongeng bergantung sepenuhnya pada alat. Sebaliknya, media menjadi sarana untuk memperkuat kemampuan bercerita.


5. Tips Memilih Cara Mendongeng di Kelas

Sebelum menentukan cara mendongeng, guru dapat mempertimbangkan beberapa hal berikut:

  1. Perhatikan usia siswa.
    Anak yang lebih kecil mungkin lebih tertarik pada boneka, gambar, atau benda konkret.

  2. Sesuaikan dengan isi cerita.
    Cerita tertentu mungkin lebih mudah disampaikan menggunakan media, sementara cerita lainnya cukup dengan vokal dan ekspresi.

  3. Pertimbangkan kondisi kelas.
    Jika waktu terbatas, mendongeng tanpa media dapat menjadi pilihan yang praktis.

  4. Gunakan media secara proporsional.
    Jangan sampai media justru mengalihkan perhatian siswa dari cerita.

  5. Latih kemampuan vokal dan ekspresi.
    Meskipun menggunakan media, kemampuan pendongeng tetap menjadi faktor penting.

  6. Berikan kesempatan siswa berpartisipasi.
    Siswa dapat dilibatkan untuk memegang boneka, menunjukkan gambar, membuat suara ilustrasi, atau menirukan gerakan tokoh.

  7. Lakukan refleksi.
    Setelah mendongeng, guru dapat mengajak siswa membahas cerita dan pesan moral yang diperoleh.

Kesimpulan

Mendongeng di kelas dapat dilakukan melalui dua cara utama, yaitu dengan media dan tanpa media. Mendongeng dengan media memanfaatkan buku, boneka, alat musik, gambar, peralatan di sekitar, atau benda lainnya untuk membantu menghidupkan cerita.

Sementara itu, mendongeng tanpa media mengandalkan kemampuan pendongeng dalam menggunakan vokal, ekspresi wajah, dan gestur tubuh. Cara ini lebih sederhana dan fleksibel, tetapi tetap membutuhkan keterampilan agar cerita dapat disampaikan secara menarik.

Kedua cara tersebut dapat digunakan secara terpisah maupun dikombinasikan. Yang paling penting adalah guru mampu menyesuaikan teknik dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, isi dongeng, serta kondisi kelas.

Dengan pemilihan cara yang tepat, kegiatan mendongeng dapat menjadi pembelajaran yang menyenangkan, interaktif, kreatif, dan bermakna, sekaligus membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berbahasa, imajinasi, ekspresi, keberanian, dan karakter positif.

Table of contents

0Comments

Form
Link copied successfully