Pendekatan Model GAWE WOT 3-W dalam Pembelajaran Mendongeng
Pembelajaran mendongeng membutuhkan tahapan yang terencana agar peserta didik tidak hanya mampu membaca dan memahami naskah, tetapi juga mampu menyampaikannya dengan ekspresi, vokal, penghayatan, dan penampilan yang menarik.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah GAWE WOT 3-W. Pendekatan ini merupakan pengembangan dari model Problem Based Learning (PBL) yang dirancang agar guru atau pendongeng dapat melaksanakan pembelajaran secara lebih terencana, tertata, dan runtut. Langkah-langkahnya dikemas dalam bentuk akronim sehingga lebih mudah diingat dan diterapkan.
GAWE WOT 3-W merupakan olahan kata dalam bahasa Jawa yang terdiri atas beberapa tahapan, mulai dari mencari bahan bacaan, mengembangkan ide, menelaah naskah, hingga melakukan pertunjukan mendongeng.
A. Tahapan GAWE
Bagian pertama dari pendekatan GAWE WOT 3-W adalah GAWE, yang terdiri atas Golek Wacan, Angen-angen, Wewengkon, dan Elok.
1. Golek Wacan
Golek wacan berarti mencari bacaan. Pada tahap ini, guru atau peserta didik mencari referensi dongeng yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran.
Bacaan dongeng dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti:
Majalah.
Buku cerita.
Kumpulan dongeng.
Media digital.
Internet atau sumber pembelajaran lainnya.
Pemilihan bacaan perlu memperhatikan kesesuaian isi dengan usia peserta didik. Dongeng yang dipilih sebaiknya memiliki cerita yang menarik, mudah dipahami, mengandung nilai edukasi, dan ramah anak.
Tahap ini dapat menjadi kegiatan awal untuk memperkenalkan peserta didik pada berbagai bentuk dan karakteristik dongeng.
2. Angen-angen
Angen-angen berarti khayalan atau imajinasi. Pada tahap ini, peserta didik tidak hanya menggunakan dongeng yang sudah tersedia, tetapi mulai mengembangkan ide dan imajinasinya sendiri untuk mengarang naskah dongeng.
Peserta didik dapat menentukan tema, tokoh, konflik, latar, alur, dan pesan moral yang ingin disampaikan.
Misalnya, peserta didik memiliki ide tentang seekor Kancil yang ingin membantu hewan-hewan di hutan. Ide tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah cerita yang memiliki konflik dan penyelesaian.
Tahap angen-angen penting untuk mengembangkan kreativitas, imajinasi, dan kemampuan berpikir peserta didik.
3. Wewengkon
Wewengkon berarti wilayah atau daerah. Pada tahap ini, peserta didik diajak mencari kekhasan daerah setempat kemudian menginovasikannya menjadi dongeng fabel.
Kekhasan daerah dapat berupa lingkungan alam, tradisi, makanan, kesenian, kehidupan masyarakat, maupun cerita rakyat setempat.
Sebagai contoh, lingkungan persawahan, sungai, gunung, atau desa di Jawa Tengah dapat dijadikan latar cerita. Kekhasan tersebut kemudian dipadukan dengan tokoh-tokoh hewan sehingga menghasilkan fabel yang memiliki nuansa lokal.
Pendekatan ini tidak hanya membuat cerita menjadi lebih dekat dengan kehidupan peserta didik, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mengenalkan dan melestarikan budaya serta kearifan lokal.
4. Elok
Elok berarti indah atau menarik. Pada tahap ini, keindahan dan kemenarikan dongeng menjadi pertimbangan penting.
Naskah dongeng sebaiknya memiliki cerita yang menarik, bahasa yang mudah dipahami, tokoh yang kuat, alur yang runtut, dan konflik yang sesuai dengan usia anak.
Keindahan dongeng tidak hanya terletak pada isi cerita, tetapi juga pada cara cerita tersebut disampaikan. Oleh karena itu, sejak tahap penyusunan naskah, pendongeng perlu memikirkan bagaimana cerita tersebut nantinya dapat ditampilkan secara menarik.
B. Tahapan WOT
Setelah tahap GAWE, proses dilanjutkan dengan WOT, yaitu Waca, Onceki, dan Tindakna.
1. Waca
Waca berarti membaca. Pada tahap ini, peserta didik membaca naskah dongeng yang telah diperoleh atau dibuat dengan teliti dan penuh penghayatan.
Membaca tidak sekadar mengenali tulisan, tetapi juga memahami isi cerita. Peserta didik perlu mengetahui siapa saja tokohnya, bagaimana karakter tokoh, apa masalah yang terjadi, bagaimana urutan peristiwa, serta pesan apa yang terdapat dalam cerita.
Pada tahap awal kegiatan mendongeng, membaca naskah secara berulang dapat membantu peserta didik menguasai isi cerita. Setelah memahami cerita dengan baik, peserta didik dapat mulai mengembangkan kemampuan untuk menyampaikannya tanpa terlalu bergantung pada teks.
2. Onceki
Onceki berarti menelaah atau mencermati. Tahap ini merupakan kegiatan penting untuk memahami berbagai unsur dalam naskah dongeng.
Hal-hal yang perlu ditelaah meliputi:
Nama tokoh.
Ciri atau tanda fisik tokoh.
Watak tokoh.
Latar waktu.
Latar tempat.
Latar suasana.
Peristiwa yang terjadi.
Isi dongeng.
Sudut pandang.
Alur.
Amanat atau pesan moral.
Dalam tahap ini, dongeng dengan alur maju sebaiknya dipilih, terutama untuk pembelajaran awal. Alur maju lebih mudah diikuti karena peristiwa disampaikan berdasarkan urutan waktu dari awal hingga akhir.
Pemahaman yang baik terhadap naskah akan menjadi dasar bagi pendongeng untuk menentukan suara, ekspresi, gerakan, dan cara menyampaikan setiap adegan.
3. Tindakna
Tindakna berarti lakukan. Pada tahap ini, peserta didik mulai melaksanakan kegiatan mendongeng.
Kegiatan mendongeng pada tahap awal dapat berkaitan dengan kegiatan pertunjukan. Peserta didik dapat terlebih dahulu berlatih menghafalkan atau menguasai naskah, memahami urutan cerita, dan berlatih menyampaikan setiap bagian cerita.
Penguasaan naskah bukan berarti peserta didik harus menghafalkan setiap kata secara kaku. Yang lebih penting adalah memahami jalan cerita sehingga penyampaian dapat dilakukan secara alami dan tidak kehilangan makna.
C. Tahapan 3-W dalam Mendongeng
Setelah peserta didik menguasai isi cerita, tahap berikutnya adalah 3-W, yaitu Wicara, Wirasa, dan Wiraga. Ketiganya merupakan aspek penting dalam penampilan mendongeng.
1. Wicara
Wicara berkaitan dengan vokal atau cara berbicara. Vokal merupakan salah satu unsur utama dan terpenting dalam kegiatan mendongeng.
Pendongeng perlu menyesuaikan suara dengan karakter tokoh dan situasi dalam cerita. Variasi vokal dapat membantu pendongeng menghidupkan cerita sehingga pendengar tidak mudah kehilangan perhatian.
Vokal yang bervariasi memiliki beberapa manfaat, antara lain:
Mengembalikan fokus anak pada cerita.
Menciptakan suasana yang menyenangkan.
Membantu pesan cerita diterima secara optimal oleh anak.
Jenis Vokal dalam Mendongeng
Terdapat beberapa jenis vokal yang dapat digunakan dalam mendongeng, yaitu:
Unsur Vokal
Agar penyampaian cerita lebih menarik, pendongeng dapat memainkan beberapa unsur vokal, yaitu:
Intonasi, yaitu tinggi rendahnya suara dalam mengucapkan kalimat.
Tempo atau ritme, yaitu cepat lambatnya penyampaian cerita.
Volume, yaitu kuat atau lemahnya suara.
Nada atau irama, yaitu variasi suara yang digunakan untuk memberikan karakter dan suasana tertentu.
Penguasaan unsur-unsur tersebut membuat cerita menjadi lebih dinamis dan tidak monoton.
2. Wirasa
Wirasa berarti penghayatan atau kemampuan merasakan dan menampilkan emosi yang terdapat dalam cerita.
Pendongeng perlu memahami perasaan tokoh dan suasana setiap adegan. Misalnya, adegan sedih perlu disampaikan dengan ekspresi yang berbeda dari adegan gembira. Begitu pula ketika tokoh sedang marah, khawatir, sabar, atau kecewa.
Beberapa bentuk penghayatan yang dapat ditampilkan antara lain:
Sedih.
Gembira.
Khawatir.
Marah.
Sabar.
Kecewa.
Penghayatan membuat cerita terasa lebih hidup dan membantu pendengar memahami keadaan yang dialami tokoh.
Tahapan Membangun Penghayatan
Agar mampu menghayati cerita dengan baik, pendongeng dapat melakukan beberapa tahapan:
Membaca cerita dengan teliti.
Mengimajinasikan kejadian dalam cerita.
Menuliskan kembali cerita menggunakan kalimat sendiri.
Menguasai dan memahami naskah dengan baik.
Semakin baik pemahaman terhadap cerita, semakin mudah pendongeng menampilkan emosi yang sesuai.
Naskah yang Ramah Anak
Penghayatan harus tetap digunakan dalam cerita yang edukatif dan ramah anak. Naskah dongeng yang baik tidak mengandung unsur pornografi atau pornoaksi, kekerasan fisik dan verbal, maupun provokasi SARA.
Dengan demikian, ekspresi emosi dalam mendongeng tetap diarahkan untuk memberikan pengalaman belajar yang positif kepada peserta didik.
3. Wiraga
Wiraga berkaitan dengan penampilan fisik atau gerakan tubuh ketika mendongeng.
Penampilan mendongeng dapat didukung oleh:
Gestur.
Mimik.
Pantomimik.
Blocking.
Improvisasi.
Penggunaan alat peraga.
Gestur
Gestur merupakan gerakan tubuh yang digunakan untuk memperkuat makna atau emosi dalam cerita. Misalnya, mengangkat tangan ketika menunjukkan sesuatu atau membungkukkan badan ketika menggambarkan tokoh yang sedang kelelahan.
Mimik
Mimik merupakan ekspresi wajah. Pendongeng dapat menunjukkan wajah gembira, sedih, takut, marah, terkejut, atau bingung sesuai dengan suasana cerita.
Pantomimik
Pantomimik adalah penyampaian pesan melalui gerakan tubuh tanpa menggunakan kata-kata. Teknik ini dapat digunakan untuk memperagakan tindakan tokoh.
Blocking
Blocking berkaitan dengan posisi dan perpindahan pendongeng ketika berada di ruang pertunjukan. Pergerakan yang tepat dapat membuat penampilan lebih dinamis.
Improvisasi
Improvisasi merupakan kemampuan melakukan penyesuaian secara spontan tanpa kehilangan arah cerita. Pendongeng dapat melakukan improvisasi ketika berinteraksi dengan penonton atau ketika kondisi pertunjukan membutuhkan penyesuaian.
Alat Peraga dan Setting Panggung
Penggunaan alat peraga perlu dibedakan dengan setting panggung.
Alat peraga digunakan untuk menunjang penampilan mendongeng dan memiliki fungsi dalam pertunjukan. Alat tersebut dapat digunakan atau terdapat interaksi dengan pendongeng selama penampilan.
Sementara itu, setting panggung merupakan perlengkapan yang digunakan sebagai latar atau hiasan. Benda tersebut tidak digunakan secara langsung atau tidak terdapat interaksi dengannya selama mendongeng.
Pemahaman mengenai perbedaan keduanya penting agar penggunaan media benar-benar mendukung cerita dan bukan sekadar menjadi dekorasi.
D. Tingkatan Membaca Pemahaman
Dalam menerapkan pendekatan GAWE WOT 3-W, guru atau pendongeng juga perlu memahami tingkatan membaca pemahaman. Hal ini penting agar guru dapat memberikan pendampingan sesuai dengan kemampuan peserta didik.
1. Membaca Pemahaman Literal
Pemahaman literal merupakan tingkatan pemahaman paling dasar. Pada tingkat ini, pembaca memahami informasi yang secara langsung tertulis dalam bacaan.
Dalam dongeng, peserta didik dapat menjawab pertanyaan seperti:
Siapa tokoh dalam cerita?
Di mana cerita berlangsung?
Apa yang terjadi?
Kapan peristiwa terjadi?
Peserta didik cukup menemukan informasi yang terdapat secara langsung dalam teks.
2. Membaca Pemahaman Interpretatif
Membaca interpretatif berarti membaca lebih mendalam untuk membuat inferensi atau simpulan. Pembaca tidak hanya memahami informasi yang tertulis, tetapi juga menghubungkan berbagai informasi dalam bacaan.
Keterampilan ini dapat mencakup:
Menentukan gagasan utama.
Menemukan hubungan sebab-akibat.
Menarik simpulan.
Menafsirkan makna tertentu dalam cerita.
Memahami informasi yang disampaikan secara tidak langsung.
Dalam dongeng, misalnya, peserta didik dapat diminta menjelaskan mengapa tokoh melakukan suatu tindakan atau apa yang mungkin terjadi jika tokoh mengambil keputusan yang berbeda.
3. Membaca Pemahaman Kritis
Membaca kritis merupakan tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Pembaca mengevaluasi materi yang dibaca dengan membandingkan gagasan dalam bacaan dengan pengetahuan atau standar yang dimiliki.
Pembaca kritis tidak langsung menerima semua informasi. Ia perlu:
Bertanya.
Meneliti fakta.
Membandingkan informasi.
Mempertimbangkan berbagai sudut pandang.
Menilai ketepatan dan kesesuaian informasi.
Menunda penilaian sebelum memahami keseluruhan isi bacaan.
Dalam pembelajaran dongeng, kemampuan ini dapat dikembangkan dengan mengajak peserta didik menilai tindakan tokoh. Misalnya, siswa dapat diminta menjawab pertanyaan, "Apakah keputusan tokoh sudah tepat? Mengapa?" atau "Bagaimana seharusnya tokoh menyelesaikan masalah tersebut?"
E. Penerapan GAWE WOT 3-W dalam Pembelajaran
Pendekatan GAWE WOT 3-W dapat diterapkan secara bertahap dalam kegiatan pembelajaran mendongeng.
| Tahap | Kegiatan |
|---|---|
| G – Golek Wacan | Mencari bacaan dongeng dari berbagai sumber |
| A – Angen-angen | Mengembangkan imajinasi dan mengarang naskah |
| W – Wewengkon | Mengangkat kekhasan daerah menjadi inspirasi fabel |
| E – Elok | Mempertimbangkan keindahan dan kemenarikan cerita |
| W – Waca | Membaca dan memahami naskah dengan teliti |
| O – Onceki | Menelaah tokoh, watak, latar, alur, sudut pandang, dan amanat |
| T – Tindakna | Mulai melakukan kegiatan mendongeng |
| W – Wicara | Mengembangkan vokal, intonasi, tempo, volume, dan nada |
| W – Wirasa | Menghayati emosi dan suasana dalam cerita |
| W – Wiraga | Mengembangkan gestur, mimik, pantomimik, blocking, dan improvisasi |
Urutan tersebut memberikan gambaran bahwa kegiatan mendongeng tidak berhenti pada kemampuan menghafalkan teks. Peserta didik perlu melalui proses mulai dari mencari dan memahami cerita, mengembangkan gagasan, menganalisis naskah, hingga mampu menampilkan cerita dengan vokal, penghayatan, dan gerakan yang tepat.
Kesimpulan
GAWE WOT 3-W merupakan pendekatan pembelajaran yang dikembangkan dari model Problem Based Learning (PBL) untuk membantu guru atau pendongeng melaksanakan pembelajaran mendongeng secara lebih terencana, tertata, dan runtut.
Pendekatan ini terdiri atas rangkaian Golek Wacan, Angen-angen, Wewengkon, Elok, Waca, Onceki, Tindakna, Wicara, Wirasa, dan Wiraga. Setiap tahap memiliki fungsi untuk membangun kemampuan peserta didik secara bertahap, mulai dari menemukan bahan dan ide cerita hingga menampilkan dongeng di hadapan pendengar.
Keberhasilan mendongeng tidak hanya ditentukan oleh penguasaan naskah. Kemampuan wicara membantu menghidupkan suara, wirasa memberikan penghayatan terhadap emosi cerita, sedangkan wiraga memperkuat penampilan melalui gerak dan ekspresi.
Selain itu, kemampuan membaca pemahaman yang meliputi literal, interpretatif, dan kritis perlu dikembangkan agar peserta didik tidak hanya mampu membaca teks, tetapi juga memahami, menafsirkan, dan mengevaluasi isi cerita.
Dengan penerapan yang tepat, GAWE WOT 3-W dapat menjadi pendekatan yang membantu pembelajaran mendongeng menjadi lebih sistematis, kreatif, menarik, edukatif, dan ramah anak.

0Comments