Laras dalam Karawitan Jawa: Pengertian, Laras Slendro, dan Laras Pelog
Pendahuluan
Dalam seni karawitan Jawa, laras merupakan salah satu unsur penting yang menentukan karakter dan rasa sebuah sajian musik. Laras berkaitan erat dengan susunan nada yang digunakan dalam memainkan gamelan maupun melagukan tembang.
Keberadaan laras membuat seni karawitan memiliki warna musikal yang khas. Dalam karawitan Jawa dikenal dua laras utama, yaitu laras slendro dan laras pelog. Keduanya memiliki susunan nada dan jarak nada yang berbeda sehingga menghasilkan karakter rasa yang berbeda pula.
Pengertian Laras
Laras adalah urutan nada tertentu yang memiliki jumlah dan jarak nada tertentu dalam satu gembyang. Dalam seni karawitan, laras menjadi dasar dalam menentukan nada-nada yang digunakan untuk memainkan gendhing maupun menyanyikan tembang.
Secara sederhana, laras dapat dipahami sebagai sistem atau susunan nada yang menjadi dasar dalam musik tradisional Jawa. Setiap laras mempunyai karakter tersendiri sehingga penggunaannya dapat memengaruhi suasana dan rasa yang muncul dalam sebuah sajian karawitan.
Dalam karawitan Jawa terdapat dua laras utama, yaitu:
Laras Slendro
Laras Pelog
Meskipun sama-sama digunakan dalam karawitan, kedua laras tersebut memiliki jumlah nada dan jarak antarnada yang berbeda.
Laras Slendro
Laras slendro merupakan salah satu sistem nada dalam karawitan Jawa yang memiliki lima nada pokok. Dalam penulisan angka kepatihan, nada laras slendro secara umum dituliskan:
1 – 2 – 3 – 5 – 6 – 1
Lima nada pokok tersebut dikenal dengan sebutan:
1 = Ji
2 = Ro
3 = Lu
5 = Mo
6 = Nem
Laras slendro memiliki karakter yang cenderung terasa lebih ringan, mengalir, dan terbuka. Namun, rasa yang muncul tetap dapat berubah bergantung pada pathet, gendhing, irama, cengkok, dan garap yang digunakan.
Laras slendro dapat digunakan dalam berbagai sajian karawitan maupun tembang. Penggunaannya memberikan warna musikal tertentu yang membedakannya dari laras pelog.
Laras Pelog
Selain slendro, dalam karawitan Jawa terdapat laras pelog. Laras pelog mempunyai tujuh nada dalam sistem nadanya. Dalam penulisan angka kepatihan, laras pelog dituliskan:
1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 6 – 7
Nada-nada tersebut dikenal dengan sebutan:
1 = Ji
2 = Ro
3 = Lu
4 = Pat
5 = Mo
6 = Nem
7 = Pi
Laras pelog mempunyai susunan dan jarak nada yang berbeda dengan laras slendro. Perbedaan tersebut menghasilkan karakter rasa musikal yang berbeda pula.
Dalam praktik karawitan, laras pelog dapat memberikan kesan yang lebih beragam karena memiliki susunan nada yang lebih banyak. Sama seperti slendro, rasa yang dihasilkan laras pelog juga sangat dipengaruhi oleh pathet, gendhing, irama, serta garap yang digunakan.
Perbedaan Laras Slendro dan Pelog
Perbedaan paling mendasar antara laras slendro dan pelog terletak pada jumlah nada dan jarak antarnadanya.
| Laras | Susunan Nada | Jumlah Nada Pokok |
|---|---|---|
| Slendro | 1 – 2 – 3 – 5 – 6 – 1 | 5 nada |
| Pelog | 1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 6 – 7 | 7 nada |
Dengan demikian, laras slendro menggunakan lima nada pokok, sedangkan laras pelog menggunakan tujuh nada pokok.
Perbedaan tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap susunan nada, tetapi juga memberikan rasa musikal yang berbeda ketika digunakan dalam gendhing maupun tembang.
Laras dalam Gendhing
Laras mempunyai hubungan yang sangat erat dengan gendhing, yaitu komposisi atau lagu dalam seni karawitan. Sebuah gendhing dapat menggunakan laras slendro atau pelog sesuai dengan bentuk dan kebutuhan musikalnya.
Pemilihan laras akan memengaruhi karakter sajian secara keseluruhan. Para pengrawit harus memahami laras yang digunakan agar dapat memainkan setiap ricikan sesuai dengan nada dan struktur gendhing.
Dengan adanya dua laras tersebut, karawitan Jawa memiliki kekayaan musikal yang sangat beragam. Berbagai gendhing dapat menghasilkan suasana dan rasa yang berbeda meskipun dimainkan dengan perangkat gamelan yang sama.
Laras dalam Tembang
Laras tidak hanya digunakan dalam permainan gamelan, tetapi juga berkaitan dengan tembang. Ketika sebuah tembang dilagukan dengan laras tertentu, karakter dan rasa yang muncul dapat menjadi berbeda.
Tembang yang menggunakan laras slendro akan memiliki warna musikal yang berbeda dengan tembang yang menggunakan laras pelog. Hal tersebut menunjukkan bahwa laras memiliki peranan penting dalam membangun keindahan dan ekspresi dalam seni vokal Jawa.
Dalam pembelajaran tembang macapat, pemahaman mengenai laras menjadi penting karena seorang penembang perlu mengetahui sistem nada yang digunakan agar dapat melagukan tembang dengan tepat dan sesuai dengan karakter lagu.
Kekayaan Rasa dalam Laras
Adanya laras slendro dan pelog menjadi salah satu kekayaan dalam seni karawitan Jawa. Perbedaan jumlah dan jarak nada menghasilkan rasa musikal yang beragam.
Rasa tersebut dapat terlihat dalam berbagai bentuk sajian, baik gendhing maupun tembang. Selain laras, karakter rasa juga dipengaruhi oleh unsur-unsur karawitan lainnya, seperti pathet, irama, cengkok, wiled, dan garap.
Oleh karena itu, laras tidak dapat dipandang hanya sebagai urutan nada. Laras merupakan salah satu dasar yang membantu membentuk karakter dan keindahan sebuah sajian karawitan.
Pentingnya Mempelajari Laras
Mempelajari laras sangat penting bagi seseorang yang ingin memahami seni karawitan Jawa. Dengan mengenal laras slendro dan pelog, seseorang akan lebih mudah memahami hubungan antara nada, gendhing, tembang, dan berbagai ricikan gamelan.
Bagi peserta didik, pembelajaran laras juga dapat menjadi sarana untuk mengenal dan menghargai warisan budaya daerah. Pemahaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap seni tradisional Jawa sekaligus mendorong generasi muda untuk ikut melestarikannya.
Kesimpulan
Laras merupakan urutan nada tertentu yang mempunyai jumlah dan jarak tertentu dalam satu gembyang. Dalam karawitan Jawa terdapat dua laras utama, yaitu laras slendro dan laras pelog.
Laras slendro memiliki lima nada pokok dengan susunan 1, 2, 3, 5, 6, sedangkan laras pelog memiliki tujuh nada dengan susunan 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7. Perbedaan jumlah dan jarak nada tersebut menghasilkan karakter serta rasa musikal yang berbeda.
Keberadaan laras slendro dan pelog memperkaya seni karawitan Jawa, baik dalam penyajian gendhing maupun tembang. Oleh karena itu, memahami laras merupakan bagian penting dalam mempelajari seni karawitan dan tembang macapat secara lebih mendalam.

0Comments