Langkah-Langkah Pembelajaran Mendongeng dengan Pendekatan GAWE WOT 3-W
Pembelajaran mendongeng merupakan kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuan berbahasa, kreativitas, imajinasi, keberanian, serta karakter peserta didik. Agar kegiatan tersebut berlangsung secara terarah, guru atau pendongeng perlu merancang pembelajaran secara sistematis mulai dari kegiatan awal, kegiatan inti, hingga kegiatan akhir.
Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah pendekatan GAWE WOT 3-W. Pendekatan ini memberikan tahapan yang runtut dalam kegiatan mendongeng, mulai dari menemukan dan memahami cerita, menelaah unsur-unsur dongeng, hingga mempraktikkan kemampuan mendongeng melalui Wicara, Wirasa, dan Wiraga.
Berikut langkah-langkah pembelajaran mendongeng menggunakan pendekatan GAWE WOT 3-W.
1. Prapembelajaran
Prapembelajaran merupakan kegiatan awal yang bertujuan mempersiapkan peserta didik sebelum memasuki kegiatan inti. Pada tahap ini, guru menciptakan suasana belajar yang tertib, nyaman, dan menyenangkan.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain:
a. Salam, Berdoa, dan Cek Kehadiran
Guru membuka pembelajaran dengan salam, mengajak siswa berdoa, kemudian melakukan pengecekan kehadiran.
Kegiatan sederhana ini membantu menciptakan suasana pembelajaran yang tertib sekaligus membangun kesiapan siswa untuk mengikuti kegiatan.
b. Penguatan Pendidikan Karakter, Apersepsi, dan Literasi
Guru memberikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang berkaitan dengan nilai-nilai positif dalam kegiatan mendongeng, seperti tanggung jawab, kerja sama, keberanian, kejujuran, dan percaya diri.
Selanjutnya, guru melakukan apersepsi dengan menghubungkan materi dongeng dengan pengalaman siswa. Misalnya, guru dapat bertanya:
"Siapa yang pernah mendengarkan dongeng dari orang tua atau guru?"
"Dongeng apa yang paling kalian sukai?"
Kegiatan dapat dilanjutkan dengan literasi melalui membaca singkat sebuah dongeng atau bagian dari cerita.
c. Menyampaikan Tujuan Pembelajaran
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dengan bahasa yang mudah dipahami siswa. Siswa perlu mengetahui kemampuan yang diharapkan setelah mengikuti kegiatan.
Misalnya, setelah pembelajaran siswa diharapkan mampu memahami isi dongeng, mengidentifikasi unsur-unsur cerita, menyusun atau memilih naskah dongeng, serta mempraktikkan kegiatan mendongeng dengan vokal, penghayatan, dan penampilan yang baik.
2. Inti Pembelajaran
Kegiatan inti merupakan bagian utama dalam pembelajaran mendongeng. Pada tahap ini, guru memfasilitasi siswa untuk mencari, memahami, menelaah, mengembangkan, dan mempraktikkan dongeng.
a. Mengatur Kelompok dan Tempat Duduk
Guru atau pendongeng mengatur tempat duduk siswa menjadi beberapa kelompok. Pembentukan kelompok dapat disesuaikan dengan jumlah siswa dan kondisi kelas.
Pembelajaran secara berkelompok dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi, bertukar gagasan, saling memberikan masukan, serta belajar bekerja sama.
b. Memilih dan Menelaah Dongeng
Apabila kegiatan inti diarahkan pada tahap ngonceki atau menelaah dongeng, siswa diminta menunjukkan dongeng yang telah dimiliki atau dipersiapkan sebelumnya.
Dongeng yang dimiliki oleh anggota kelompok kemudian didiskusikan. Setiap kelompok memilih salah satu dongeng yang menurut mereka paling elok atau paling baik untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Dalam menentukan dongeng, siswa dapat mempertimbangkan beberapa hal, seperti:
Cerita menarik.
Bahasa mudah dipahami.
Tokoh memiliki karakter yang jelas.
Alur mudah diikuti.
Mengandung pesan moral.
Sesuai dengan usia siswa.
Ramah anak.
Memiliki potensi untuk didongengkan secara menarik.
c. Menulis Naskah Dongeng
Apabila pembelajaran dimulai dari kegiatan menulis dongeng, siswa terlebih dahulu berdiskusi dengan anggota kelompok mengenai cerita yang akan dibuat.
Naskah dapat dikembangkan berdasarkan cerita lisan yang pernah didengar, misalnya cerita fabel, atau merupakan dongeng murni hasil karangan siswa.
Pada tahap ini, siswa dapat menentukan:
Tema cerita.
Tokoh dan penokohan.
Latar.
Alur.
Konflik.
Penyelesaian.
Pesan moral.
Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan ide tanpa mengambil alih kreativitas mereka.
d. Membaca Naskah Dongeng
Setelah naskah tersedia, guru meminta siswa membaca naskah dongeng dengan teliti.
Kegiatan membaca bukan sekadar membaca teks dengan suara keras, tetapi juga memahami isi cerita. Oleh karena itu, guru atau pendongeng sebaiknya memiliki pengetahuan mengenai tingkatan membaca pemahaman, sehingga dapat memberikan pendampingan sesuai dengan kemampuan siswa.
Siswa perlu memahami siapa tokohnya, bagaimana karakter tokoh, di mana dan kapan peristiwa berlangsung, bagaimana suasana cerita, apa masalah yang terjadi, bagaimana urutan peristiwa, dan apa pesan yang terkandung di dalamnya.
e. Ngonceki atau Menelaah Isi Dongeng
Setelah membaca, siswa melakukan kegiatan ngonceki, yaitu menelaah dan mencermati berbagai unsur yang terdapat dalam dongeng.
Telaah dapat mencakup:
Nama tokoh.
Tanda atau ciri fisik tokoh.
Watak tokoh.
Latar waktu.
Latar tempat.
Latar suasana.
Isi cerita.
Alur cerita.
Sudut pandang.
Amanat atau pesan moral.
Dialog antartokoh.
Bagian-bagian cerita yang perlu mendapatkan penekanan ketika didongengkan.
Untuk pembelajaran awal, dongeng dengan alur maju sebaiknya lebih diutamakan karena urutan peristiwanya relatif lebih mudah dipahami siswa.
f. Praktik Mendongeng
Setelah memahami dan menelaah naskah, siswa dengan bimbingan guru mulai melakukan praktik mendongeng.
Bentuk praktik dapat disesuaikan dengan kreativitas guru dan kondisi pembelajaran. Kegiatan dapat dilakukan:
Di dalam kelompok.
Di depan kelompok.
Dengan didampingi teman.
Di depan kelas.
Dalam kegiatan pentas mendongeng.
Di rumah bersama keluarga.
Dalam praktik mendongeng, siswa dapat menerapkan tiga aspek utama, yaitu:
1. Wicara
Siswa memperhatikan kemampuan vokal, seperti intonasi, tempo, volume, nada, serta perbedaan suara narasi, suara tokoh, dan suara ilustrasi.
2. Wirasa
Siswa menghayati perasaan dan suasana dalam cerita, seperti gembira, sedih, khawatir, marah, sabar, atau kecewa.
3. Wiraga
Siswa menggunakan gestur, mimik, pantomimik, blocking, dan improvisasi untuk memperkuat penampilan.
Ketiga aspek tersebut dapat dilatih secara bertahap sesuai dengan kemampuan siswa.
3. Pengembangan Kegiatan Mendongeng
Kegiatan praktik mendongeng tidak harus berhenti di dalam kelas. Guru dapat mengembangkan kegiatan hingga lingkungan sekolah maupun rumah.
Misalnya, dongeng yang telah dipilih, disukai, dan dikuasai siswa dapat didongengkan kembali di rumah sesuai dengan kreativitas masing-masing. Kegiatan tersebut dapat didokumentasikan dalam bentuk foto atau video.
Dokumentasi dapat digunakan sebagai bahan refleksi. Siswa dapat melihat kembali penampilannya untuk mencermati cara berbicara, ekspresi wajah, gerakan tubuh, maupun penguasaan cerita.
Kegiatan ini juga memberikan kesempatan kepada anak untuk melihat aksi nyata dalam mendongeng, baik dirinya sendiri maupun teman-temannya.
Pembelajaran juga dapat dikembangkan menjadi kegiatan pentas mendongeng di sekolah. Dengan demikian, siswa mendapatkan pengalaman tampil di hadapan orang lain dan belajar membangun rasa percaya diri.
4. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal
Salah satu tujuan penting dari pembelajaran mendongeng dengan pendekatan GAWE WOT 3-W adalah memberikan ruang kepada siswa untuk mengenal dan melestarikan budaya daerah.
Guru dapat mendorong siswa untuk semakin banyak mengangkat dongeng dari daerah setempat. Cerita dapat dikembangkan dari lingkungan, kehidupan masyarakat, budaya, maupun kekhasan daerah.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan mampu:
Mengenal cerita rakyat daerah.
Menggali nilai-nilai budaya lokal.
Menghargai kearifan lokal.
Mengembangkan kreativitas berdasarkan lingkungan sekitar.
Menggunakan bahasa daerah secara tepat.
Melestarikan tradisi mendongeng.
Dengan demikian, pembelajaran mendongeng tidak hanya berkaitan dengan keterampilan berbicara, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya.
5. Akhir Pembelajaran
Setelah kegiatan inti selesai, pembelajaran dilanjutkan dengan kegiatan akhir. Tahap ini digunakan untuk membantu siswa memahami pengalaman belajar yang telah dilakukan.
a. Membuat Simpulan
Siswa bersama guru membuat simpulan mengenai pembelajaran yang telah berlangsung.
Guru dapat mengajak siswa menyebutkan kembali hal-hal penting yang telah dipelajari, seperti unsur dongeng, cara menelaah naskah, serta teknik mendongeng menggunakan Wicara, Wirasa, dan Wiraga.
b. Evaluasi
Guru melakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat pemahaman dan keterampilan siswa.
Evaluasi dapat dilakukan melalui pertanyaan lisan, tugas tertulis, hasil telaah naskah, maupun penampilan mendongeng.
c. Refleksi
Siswa melakukan refleksi terhadap pengalaman belajar.
Pertanyaan refleksi dapat berupa:
Apa yang sudah saya pahami?
Bagian mana yang paling saya sukai?
Apa kesulitan saya ketika mendongeng?
Bagaimana cara saya memperbaiki penampilan?
Nilai apa yang saya dapatkan dari dongeng?
Refleksi membantu siswa mengenali kelebihan dan kekurangan dirinya sehingga dapat melakukan perbaikan pada kegiatan berikutnya.
d. Penguatan Karakter, Doa, dan Salam
Guru memberikan penguatan terhadap nilai karakter yang muncul selama pembelajaran. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa dan salam.
6. Penilaian Pembelajaran
Penilaian dalam pembelajaran mendongeng dengan pendekatan GAWE WOT 3-W dapat dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berdasarkan hasil akhir penampilan.
Beberapa aspek yang dapat dinilai antara lain:
a. Lembar Hasil Kerja
Penilaian dapat dilakukan terhadap hasil kerja siswa berupa naskah dongeng. Guru dapat menilai kelengkapan unsur cerita, kreativitas, keruntutan alur, penggunaan bahasa, dan pesan moral.
b. Keaktifan atau Partisipasi
Guru mengamati keaktifan siswa selama diskusi, membaca, menelaah naskah, menyusun cerita, dan mengikuti praktik mendongeng.
c. Refleksi
Refleksi digunakan untuk mengetahui pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
d. Unjuk Kerja
Unjuk kerja digunakan untuk menilai kemampuan siswa ketika mempraktikkan kegiatan mendongeng.
Aspek yang dapat diamati antara lain:
Penguasaan naskah.
Kelancaran bercerita.
Ketepatan vokal.
Intonasi dan tempo.
Volume suara.
Penghayatan.
Ekspresi wajah.
Gerakan tubuh.
Interaksi dengan pendengar.
Kreativitas.
Penggunaan alat peraga.
7. Contoh Alur Pembelajaran GAWE WOT 3-W
Secara sederhana, langkah pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut:
Alur tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi kelas, kemampuan peserta didik, waktu pembelajaran, serta kreativitas guru.
Kesimpulan
Pembelajaran mendongeng dengan pendekatan GAWE WOT 3-W dapat dilaksanakan melalui tahapan yang sistematis, mulai dari prapembelajaran, kegiatan inti, hingga kegiatan akhir dan penilaian.
Pada kegiatan inti, siswa dapat memilih atau menulis naskah dongeng, membaca dan memahami cerita, melakukan ngonceki atau telaah terhadap unsur-unsur dongeng, kemudian mempraktikkan kegiatan mendongeng. Kemampuan mendongeng dikembangkan melalui Wicara, Wirasa, dan Wiraga sehingga siswa tidak hanya menguasai isi cerita, tetapi juga mampu menyampaikannya dengan vokal, penghayatan, dan penampilan yang baik.
Kegiatan dapat dikembangkan di sekolah maupun di rumah melalui praktik, dokumentasi video, dan pentas mendongeng. Penggunaan dongeng dari daerah setempat juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal nilai budaya, menggunakan bahasa daerah, dan ikut melestarikan tradisi mendongeng.
Dengan penerapan yang tepat, pendekatan GAWE WOT 3-W diharapkan dapat memfasilitasi peserta didik agar tertarik, menyukai, termotivasi, dan terampil dalam mendongeng dengan suasana yang menyenangkan dan membahagiakan. Pada akhirnya, kegiatan ini tidak hanya mengembangkan keterampilan berbahasa dan seni pertunjukan, tetapi juga menjadi salah satu upaya untuk membangun karakter sekaligus melestarikan budaya.

0Comments