GUW0GUzoGSOpGSr0TUz9GfY0Gi==

Headline:

Lagu dalam Tembang Macapat: Pengertian, Notasi Kepatihan, dan Cara Membacanya

Lagu dalam Tembang Macapat: Pengertian, Notasi Kepatihan, dan Cara Membacanya

Pendahuluan

Dalam seni karawitan Jawa, lagu merupakan salah satu unsur penting dalam penyajian tembang, termasuk tembang macapat. Lagu menjadi penghubung antara teks atau cakepan dengan suara yang dilantunkan oleh penembang.

Sebuah tembang tidak hanya dinilai dari keindahan kata-katanya, tetapi juga dari bagaimana rangkaian nada disusun dan dilagukan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai lagu dan notasi sangat penting bagi seseorang yang ingin mempelajari tembang macapat.

Pengertian Lagu

Lagu merupakan susunan nada atau titi laras yang diatur sedemikian rupa sehingga ketika disuarakan atau dibunyikan terasa enak untuk didengarkan.

Dalam tembang macapat, lagu menjadi pola melodi yang digunakan untuk melantunkan cakepan. Susunan nada tersebut disesuaikan dengan jenis tembang, laras, pathet, serta karakter lagu yang digunakan.

Dengan adanya lagu, teks tembang dapat dinyanyikan dengan pola nada tertentu sehingga menghasilkan keindahan, suasana, dan rasa yang khas.

Lagu dalam Tembang Macapat

Setiap jenis tembang macapat memiliki karakter lagu masing-masing. Lagu tersebut harus disesuaikan dengan aturan dan karakter tembang yang digunakan.

Sebagai contoh, berikut adalah salah satu contoh lagu tembang macapat Pangkur dalam laras pelog pathet nem:

3 5 5 5 3 3 3 3
3 5 5 6 1 1 1 1 2 3 2.1
5 6 ! ! ! ! z!c@ @
! 6 5 5 5 5 35
3 5 5 6 1 1 1 1 1 2 3 3
y 1 1 1 1 1 1 1
1 2 3 1 2 3 3 2.1

Notasi tersebut menunjukkan rangkaian nada yang digunakan untuk melagukan cakepan tembang Pangkur. Angka-angka dalam notasi merupakan notasi kepatihan yang digunakan dalam tradisi karawitan Jawa.

Mengenal Notasi Kepatihan

Dalam seni karawitan Jawa, sistem penulisan nada dikenal dengan istilah notasi kepatihan atau titi laras kepatihan. Sistem ini menggunakan angka untuk mewakili nada-nada dalam gamelan.

Angka yang digunakan adalah:

1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7

Cara membaca angka tersebut menggunakan bahasa Jawa. Nama nada diambil dari suku kata terakhir dari kata bilangan bahasa Jawa.

Berikut cara membacanya:

NotasiBilangan JawaDibaca
1sijiji
2lororo
3telulu
4papatpat
5limama
6enemnem
7pitupi

Dengan demikian, urutan nada dalam notasi kepatihan dapat dibaca:

1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 6 – 7

menjadi:

ji – ro – lu – pat – ma – nem – pi

Fungsi Notasi Kepatihan

Notasi kepatihan memiliki beberapa fungsi penting dalam pembelajaran dan praktik karawitan, antara lain:

1. Mempermudah Mempelajari Lagu

Notasi membantu peserta didik mengetahui susunan nada sebuah lagu tanpa harus selalu mendengarkan contoh secara langsung.

2. Mendokumentasikan Lagu

Sebuah lagu dapat dituliskan dalam bentuk notasi sehingga dapat dipelajari kembali pada waktu yang berbeda.

3. Membantu Penembang

Bagi penembang pemula, notasi dapat menjadi pedoman untuk memahami tinggi-rendah serta urutan nada dalam sebuah tembang.

4. Membantu Pembelajaran Karawitan

Notasi kepatihan menjadi salah satu media pembelajaran untuk mengenalkan sistem nada dalam karawitan Jawa kepada peserta didik.

Membaca Notasi Kepatihan

Membaca notasi kepatihan tidak hanya dilakukan dengan menyebut angka, tetapi menggunakan istilah nada dalam bahasa Jawa.

Sebagai contoh:

  • 1 2 3 dibaca ji ro lu

  • 3 5 6 dibaca lu ma nem

  • 1 4 5 dibaca ji pat ma

  • 5 6 7 dibaca ma nem pi

Cara membaca tersebut membantu peserta didik membiasakan diri dengan istilah titi laras dalam karawitan Jawa.

Dalam praktiknya, simbol tertentu pada notasi kepatihan dapat digunakan untuk menunjukkan tinggi-rendah nada, panjang pendek nada, maupun tanda musikal lainnya. Oleh sebab itu, membaca notasi kepatihan perlu dilakukan bersama contoh lagu atau bimbingan guru agar pemahamannya tepat.

Hubungan Lagu dengan Laras dan Pathet

Lagu dalam tembang tidak dapat dipisahkan dari laras dan pathet. Laras menentukan sistem nada yang digunakan, sedangkan pathet berkaitan dengan wilayah nada dan rasa seleh.

Pada contoh tembang Pangkur di atas digunakan laras pelog pathet nem. Artinya, lagu tersebut disajikan menggunakan sistem laras pelog dengan pathet nem.

Perpaduan antara lagu, laras, dan pathet menghasilkan karakter musikal tertentu. Hal inilah yang membuat penyajian tembang macapat memiliki rasa dan suasana yang khas.

Lagu dan Cakepan

Lagu juga memiliki hubungan erat dengan cakepan atau teks tembang. Cakepan yang telah disusun berdasarkan aturan guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu kemudian dilagukan menggunakan pola nada tertentu.

Dengan demikian, dalam penyajian tembang macapat terdapat hubungan antara:

Cakepan → Lagu → Laras → Pathet → Rasa

Cakepan menyampaikan makna, lagu memberikan melodi, laras menjadi dasar sistem nada, pathet menentukan wilayah dan rasa seleh, sedangkan keseluruhannya membentuk karakter tembang.

Pentingnya Mempelajari Lagu

Mempelajari lagu dalam tembang macapat sangat penting karena seorang penembang harus mampu menggabungkan beberapa unsur sekaligus. Tidak cukup hanya menghafalkan teks, tetapi juga perlu memahami nada dan cara melagukannya.

Dengan mempelajari lagu, peserta didik diharapkan mampu:

  • mengenali notasi kepatihan;

  • membaca titi laras dengan benar;

  • memahami susunan nada dalam tembang;

  • membedakan laras dan pathet;

  • melagukan cakepan sesuai dengan notasi;

  • memahami karakter dan rasa tembang; serta

  • meningkatkan kemampuan dalam seni vokal karawitan.

Kesimpulan

Lagu merupakan susunan nada atau titi laras yang diatur sedemikian rupa sehingga ketika dinyanyikan atau dibunyikan menghasilkan rangkaian suara yang indah dan enak didengarkan. Dalam tembang macapat, lagu menjadi pola melodi yang digunakan untuk melantunkan cakepan sesuai dengan jenis tembang, laras, dan pathet.

Salah satu contoh adalah lagu tembang Pangkur dalam laras pelog pathet nem yang dapat dituliskan menggunakan notasi kepatihan. Notasi kepatihan menggunakan angka 1 sampai 7, yang dibaca berdasarkan suku kata terakhir dari bilangan bahasa Jawa, yaitu ji, ro, lu, pat, ma, nem, dan pi.

Pemahaman terhadap lagu dan notasi kepatihan menjadi dasar penting dalam mempelajari tembang macapat. Dengan menguasai notasi, laras, pathet, dan cara melagukan cakepan, peserta didik dapat menyajikan tembang macapat dengan lebih tepat, indah, dan penuh rasa.

Table of contents

0Comments

Form
Link copied successfully