GUW0GUzoGSOpGSr0TUz9GfY0Gi==

Headline:

Pengertian Geguritan: Sejarah, Ciri-Ciri, dan Perkembangannya dalam Sastra Jawa

 

Pengertian Geguritan: Sejarah, Ciri-Ciri, dan Perkembangannya dalam Sastra Jawa

Pendahuluan

Geguritan merupakan salah satu bentuk karya sastra Jawa yang memiliki nilai seni, budaya, dan filosofi yang tinggi. Sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara, geguritan menjadi media untuk mengungkapkan gagasan, perasaan, nasihat, kritik sosial, hingga pengalaman hidup melalui bahasa Jawa yang indah dan penuh makna. Seiring perkembangan zaman, bentuk dan gaya penulisan geguritan mengalami perubahan sehingga lebih fleksibel dan mudah diterima oleh masyarakat modern tanpa meninggalkan nilai-nilai estetikanya.

Saat ini, geguritan tidak hanya dipelajari di sekolah sebagai bagian dari pembelajaran Bahasa Jawa, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya daerah melalui berbagai kegiatan seperti lomba membaca geguritan, penulisan karya sastra, hingga publikasi di media cetak maupun digital.

Pengertian Geguritan

Pada awal perkembangannya, geguritan merupakan karya sastra Jawa kuno yang memiliki ciri khas sastra lama, yaitu bersifat anonim atau tidak mencantumkan nama pengarang. Pada masa itu, para penulis lebih mengutamakan nilai karya daripada popularitas pribadi. Bahkan, banyak geguritan yang diciptakan sebagai bentuk penghormatan atau persembahan kepada raja maupun pemimpin yang berkuasa sehingga identitas penulis sengaja tidak dicantumkan.

Secara etimologis, istilah geguritan berasal dari kata gurit. Dalam Baoesastra Jawa (1939), kata gurit berarti tulisan atau kidung, sedangkan geguritan diartikan sebagai tembang atau syair yang menggunakan unsur purwakanthi, yaitu keindahan bunyi dalam susunan kata.

Sementara itu, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karya Poerwadarminta (1986), kata gurit berarti sajak atau syair. Adapun dalam Kamus Kawi Indonesia, kata gurit diartikan sebagai goresan atau tulisan. Berdasarkan berbagai pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa geguritan adalah karya sastra berbentuk puisi atau syair berbahasa Jawa yang pada mulanya dilagukan menggunakan tembang atau pupuh.

Perkembangan Geguritan

Perkembangan bahasa dan perubahan selera masyarakat membawa perubahan besar terhadap bentuk geguritan. Jika dahulu geguritan identik dengan tembang yang terikat aturan tertentu, kini geguritan berkembang menjadi puisi Jawa modern yang lebih bebas.

Geguritan modern tidak lagi harus mengikuti pola pupuh maupun aturan purwakanthi secara ketat. Penyair memiliki kebebasan dalam menentukan bentuk, jumlah baris, pilihan kata, maupun gaya penyampaian. Bahasa yang digunakan pun mengikuti perkembangan bahasa Jawa yang hidup di tengah masyarakat saat ini sehingga lebih komunikatif dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.

Karena sifatnya yang semakin fleksibel, pengertian geguritan saat ini hampir sama dengan puisi modern. Perbedaan utamanya terletak pada bahasa yang digunakan, yaitu bahasa Jawa.

Ciri-Ciri Geguritan Modern

Sebagai salah satu bentuk puisi kontemporer, geguritan memiliki beberapa ciri khas, antara lain:

  • Menggunakan bahasa Jawa, baik ragam ngoko, krama, maupun campuran sesuai kebutuhan.

  • Bentuk penulisannya bebas dan tidak terikat jumlah bait maupun jumlah baris.

  • Tidak terikat oleh aturan guru lagu (persamaan bunyi pada akhir baris).

  • Tidak terikat oleh guru wilangan (jumlah suku kata pada setiap baris).

  • Tidak menggunakan aturan metrum seperti pada kakawin.

  • Mengutamakan keindahan bahasa, makna, serta pesan yang ingin disampaikan.

  • Memiliki tipografi yang lebih bebas sesuai kreativitas penyair.

  • Dapat mengangkat berbagai tema kehidupan, baik sosial, budaya, pendidikan, lingkungan, maupun religi.

Perbedaan Geguritan dengan Macapat

Meskipun sama-sama merupakan karya sastra Jawa, geguritan memiliki perbedaan yang cukup jelas dengan tembang macapat.

AspekGeguritanMacapat
BentukPuisi Jawa modernPuisi Jawa tradisional
AturanBebasTerikat guru lagu dan guru wilangan
BahasaBahasa Jawa modernBahasa Jawa tradisional
PenyajianDibaca atau dideklamasikanDitembangkan sesuai pupuh
TemaBebas dan mengikuti perkembangan zamanUmumnya bertema nasihat, kehidupan, atau filosofi

Pendapat Para Ahli

Menurut Sumarlam (1991), geguritan merupakan puisi Jawa modern atau kontemporer yang tidak terikat oleh aturan guru lagu, guru wilangan, maupun metrum sebagaimana pada macapat dan kakawin. Kebebasan tersebut memberikan ruang bagi penyair untuk lebih leluasa dalam mengekspresikan ide, perasaan, dan kreativitasnya.

Saat ini geguritan berkembang sangat pesat. Berbagai majalah dan media berbahasa Jawa hampir selalu memuat rubrik geguritan pada setiap penerbitannya. Banyak penyair muda yang aktif menghasilkan karya-karya baru dengan tetap mempertahankan unsur estetika bahasa Jawa, seperti penggunaan persajakan, permainan bunyi, maupun gaya bahasa yang khas.

Fungsi Geguritan

Selain sebagai karya sastra, geguritan memiliki berbagai fungsi, antara lain:

  1. Sebagai media ekspresi perasaan dan gagasan penyair.

  2. Sebagai sarana pelestarian bahasa dan budaya Jawa.

  3. Sebagai media pendidikan karakter melalui pesan moral yang terkandung di dalamnya.

  4. Sebagai hiburan yang memberikan keindahan bahasa kepada pembaca maupun pendengar.

  5. Sebagai media kritik sosial terhadap berbagai fenomena kehidupan.

Pentingnya Mempelajari Geguritan

Mempelajari geguritan memberikan banyak manfaat, khususnya bagi generasi muda. Selain meningkatkan kemampuan berbahasa Jawa, pembelajaran geguritan juga melatih kemampuan berpikir kreatif, memperkaya kosakata, meningkatkan apresiasi terhadap karya sastra, serta menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya daerah.

Di era digital, geguritan bahkan semakin mudah dikenalkan kepada masyarakat melalui media sosial, video pembacaan puisi, podcast, maupun berbagai platform digital lainnya. Hal ini menjadi peluang besar untuk menjaga eksistensi sastra Jawa agar tetap hidup dan berkembang di tengah arus globalisasi.

Penutup

Geguritan merupakan salah satu bentuk karya sastra Jawa yang mengalami perkembangan dari sastra tradisional menjadi puisi Jawa modern yang lebih bebas dan dinamis. Jika pada masa lampau geguritan identik dengan tembang yang terikat berbagai aturan, kini geguritan hadir sebagai media ekspresi yang lebih fleksibel tanpa meninggalkan nilai keindahan bahasa Jawa. Dengan mempelajari geguritan, masyarakat tidak hanya memahami sebuah karya sastra, tetapi juga ikut melestarikan bahasa, budaya, dan identitas bangsa yang menjadi warisan leluhur.

Daftar Pustaka

  • Baoesastra Jawa. 1939.

  • Poerwadarminta, W.J.S. 1986. Kamus Umum Bahasa Indonesia.

  • Sumarlam. 1991. Geguritan Jawa Modern.

Table of contents

0Comments

Form
Link copied successfully