Jenis-Jenis Gurit: Mengenal Geguritan Lama dan Geguritan Modern
Pendahuluan
Gurit atau geguritan merupakan salah satu bentuk karya sastra Jawa yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Perkembangan tersebut tidak hanya terlihat dari penggunaan bahasa, tetapi juga dari bentuk, struktur, serta gaya penyampaiannya. Jika pada masa lampau geguritan ditulis dengan mengikuti aturan yang ketat, maka pada masa kini penyair memiliki kebebasan yang lebih luas dalam mengekspresikan gagasan dan perasaannya.
Berdasarkan sejarah perkembangannya, geguritan secara umum dibedakan menjadi dua jenis, yaitu geguritan lama dan geguritan modern. Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari segi bahasa, aturan penulisan, maupun bentuk penyajiannya.
Pengertian Jenis-Jenis Gurit
Jenis gurit merupakan pengelompokan geguritan berdasarkan bentuk, aturan, dan perkembangan sastra Jawa dari masa ke masa. Secara umum, gurit dibedakan menjadi dua kategori utama, yaitu gurit lama (geguritan tradisional) dan gurit modern (geguritan kontemporer).
Perbedaan keduanya mencerminkan perubahan budaya, perkembangan bahasa, serta kebutuhan masyarakat dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya melalui karya sastra.
1. Geguritan Lama
Geguritan lama adalah bentuk puisi Jawa tradisional yang berkembang pada masa lampau. Jenis geguritan ini umumnya menggunakan bahasa Jawa Kuno (Basa Kawi) dan disusun berdasarkan aturan-aturan tertentu yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Karena terikat pada kaidah sastra tradisional, penyair harus memperhatikan berbagai ketentuan dalam proses penulisannya sehingga menghasilkan karya yang memiliki keindahan bunyi dan irama yang khas.
Ciri-Ciri Geguritan Lama
Beberapa karakteristik geguritan lama antara lain:
Menggunakan bahasa Jawa Kuno atau Basa Kawi.
Terikat oleh aturan penulisan yang baku.
Memiliki pola bunyi dan irama tertentu.
Banyak berisi nasihat, ajaran moral, kepahlawanan, maupun cerita keagamaan.
Umumnya dinyanyikan atau dilagukan sesuai ketentuan tembang.
Aturan dalam Geguritan Lama
Dalam penyusunannya, geguritan lama memperhatikan beberapa aturan pokok, yaitu:
Guru lagu, yaitu aturan mengenai bunyi vokal pada akhir setiap baris.
Guru gatra, yaitu jumlah baris dalam setiap bait.
Guru wilangan, yaitu jumlah suku kata pada setiap baris.
Ketiga aturan tersebut menjadikan geguritan lama memiliki bentuk yang teratur dan harmonis.
Contoh Geguritan Lama
Beberapa bentuk geguritan tradisional yang masih dikenal hingga sekarang antara lain:
Kakawin
Kidung
Singir (Syair)
Tembang Macapat
Tembang Tengahan
Bentuk-bentuk puisi Jawa klasik lainnya
Karya-karya tersebut menjadi bagian penting dari kekayaan sastra Jawa yang diwariskan dari generasi ke generasi.
2. Geguritan Modern
Geguritan modern merupakan perkembangan dari geguritan tradisional yang muncul mengikuti perubahan zaman dan perkembangan bahasa Jawa.
Berbeda dengan geguritan lama, geguritan modern tidak lagi terikat oleh aturan guru lagu, guru wilangan, maupun guru gatra. Penyair memiliki kebebasan dalam menentukan jumlah bait, jumlah baris, pilihan kata, bahkan bentuk penulisan.
Kebebasan tersebut membuat geguritan modern lebih mudah dipahami oleh masyarakat, terutama generasi muda.
Ciri-Ciri Geguritan Modern
Geguritan modern memiliki beberapa ciri sebagai berikut:
Menggunakan bahasa Jawa yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak terikat oleh guru lagu, guru wilangan, maupun guru gatra.
Bentuk penulisannya bebas.
Tema lebih beragam dan mengikuti perkembangan zaman.
Menggunakan kosakata yang lebih variatif.
Dapat memadukan kosakata dari bahasa Indonesia maupun bahasa asing apabila diperlukan untuk memperkuat makna.
Tema Geguritan Modern
Tema yang sering diangkat dalam geguritan modern antara lain:
Pendidikan
Lingkungan hidup
Persahabatan
Kehidupan keluarga
Cinta tanah air
Budaya Jawa
Teknologi
Kritik sosial
Kehidupan masyarakat
Tema-tema tersebut menunjukkan bahwa geguritan modern mampu menyesuaikan diri dengan berbagai persoalan kehidupan masa kini.
Perbedaan Geguritan Lama dan Geguritan Modern
Berikut adalah perbedaan utama antara kedua jenis geguritan.
| Aspek | Geguritan Lama | Geguritan Modern |
|---|---|---|
| Bahasa | Jawa Kuno (Basa Kawi) | Bahasa Jawa modern |
| Aturan | Terikat guru lagu, guru gatra, dan guru wilangan | Tidak terikat aturan baku |
| Bentuk | Tradisional | Bebas |
| Kosakata | Dominan bahasa Jawa klasik | Lebih variatif, dapat memadukan kosakata lain |
| Tema | Kepahlawanan, nasihat, keagamaan, kerajaan | Kehidupan sehari-hari, pendidikan, sosial, budaya, lingkungan |
| Penyajian | Biasanya ditembangkan | Dibaca atau dideklamasikan |
Perkembangan Gurit di Era Modern
Kemajuan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap perkembangan geguritan. Saat ini, geguritan tidak hanya dipublikasikan melalui buku atau majalah berbahasa Jawa, tetapi juga banyak dibagikan melalui media sosial, blog, website, video pembacaan puisi, hingga berbagai platform digital.
Perkembangan ini membuka peluang bagi generasi muda untuk terus berkarya sekaligus melestarikan bahasa dan sastra Jawa agar tetap dikenal di tengah arus globalisasi.
Pentingnya Mempelajari Jenis-Jenis Gurit
Memahami jenis-jenis gurit memberikan berbagai manfaat, antara lain:
Menambah wawasan tentang perkembangan sastra Jawa.
Memudahkan mengenali perbedaan antara karya sastra tradisional dan modern.
Meningkatkan kemampuan mengapresiasi karya sastra daerah.
Menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya Jawa.
Menjadi bekal dalam menulis maupun membaca geguritan sesuai karakteristiknya.
Penutup
Gurit atau geguritan merupakan karya sastra Jawa yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Berdasarkan sejarah perkembangannya, geguritan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu geguritan lama dan geguritan modern. Geguritan lama masih terikat oleh berbagai aturan sastra tradisional, sedangkan geguritan modern hadir dengan bentuk yang lebih bebas dan fleksibel. Keduanya memiliki nilai budaya, estetika, dan pendidikan yang tinggi sehingga penting untuk dipelajari sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan sastra Jawa sekaligus memperkenalkannya kepada generasi masa kini.
Daftar Pustaka
Aminuddin. 1995. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Poerwadarminta, W.J.S. 1986. Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Sumarlam. 1991. Geguritan Jawa Modern.

0Comments