Unsur-Unsur Dongeng

Dongeng merupakan salah satu bentuk karya sastra yang memiliki cerita menarik, penuh imajinasi, dan biasanya mengandung pesan moral. Agar sebuah dongeng dapat menjadi cerita yang utuh dan mudah dipahami, terdapat beberapa unsur pembangun di dalamnya.

Menurut Nurani, Nugraha, dan Arga (2021), unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah dongeng meliputi tema, latar, alur, tokoh, penokohan, sudut pandang, majas, dan amanat. Setiap unsur memiliki fungsi masing-masing dalam membangun sebuah cerita.

Berikut penjelasan mengenai unsur-unsur dongeng.

1. Tema

Tema merupakan gagasan atau ide utama yang menjadi dasar sebuah dongeng. Tema menjadi landasan bagi pengarang dalam mengembangkan cerita dari awal hingga akhir.

Tema dapat berupa persahabatan, kejujuran, keberanian, kasih sayang, kerja keras, tanggung jawab, atau kebaikan. Berdasarkan cara penyampaiannya, tema dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tema tersurat dan tema tersirat.

Tema Tersurat

Tema tersurat adalah tema yang disampaikan secara langsung dan mudah ditemukan dalam cerita. Pembaca atau pendengar tidak perlu melakukan penafsiran yang terlalu mendalam untuk mengetahui tema tersebut.

Tema Tersirat

Tema tersirat adalah tema yang tidak disampaikan secara langsung. Pembaca atau pendengar perlu memahami rangkaian peristiwa, tindakan tokoh, dan pesan cerita untuk menemukan tema yang dimaksud.

2. Latar

Latar adalah keterangan mengenai tempat, waktu, dan suasana ketika suatu peristiwa dalam dongeng terjadi.

Latar membantu pembaca atau pendengar membayangkan keadaan yang terdapat dalam cerita. Latar juga membuat cerita terasa lebih nyata dan mudah diikuti.

Latar dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain:

  • Latar tempat, yaitu lokasi terjadinya peristiwa, seperti hutan, kerajaan, rumah, sekolah, atau sungai.

  • Latar waktu, yaitu waktu terjadinya peristiwa, seperti pagi hari, malam hari, dahulu kala, atau pada suatu hari.

  • Latar suasana, yaitu keadaan atau suasana yang dirasakan dalam cerita, seperti gembira, sedih, menegangkan, atau menyenangkan.

3. Alur

Alur adalah urutan peristiwa dalam sebuah dongeng yang saling berkaitan berdasarkan hubungan sebab-akibat. Alur membuat cerita berkembang dari awal hingga akhir secara runtut.

Dalam sebuah dongeng, biasanya terdapat rangkaian peristiwa yang dimulai dari pengenalan cerita, munculnya masalah, perkembangan konflik, hingga penyelesaian.

Contohnya, seorang tokoh melakukan kesalahan sehingga menimbulkan masalah. Tokoh tersebut kemudian berusaha memperbaiki kesalahannya hingga akhirnya masalah dapat diselesaikan. Hubungan antarkeadaan tersebut membentuk alur cerita.

Alur yang tersusun dengan baik akan membuat dongeng lebih mudah dipahami dan menarik untuk diikuti.

4. Tokoh

Tokoh adalah para pelaku yang terlibat dan mengalami berbagai peristiwa dalam sebuah dongeng.

Tokoh dapat berupa manusia, hewan, tumbuhan, maupun benda yang digambarkan memiliki karakter tertentu. Dalam cerita fabel, misalnya, tokoh utama dapat berupa Kancil, Buaya, Kera, atau hewan lainnya.

Berdasarkan perannya dalam cerita, tokoh dapat terdiri atas:

  • Tokoh utama, yaitu tokoh yang menjadi pusat cerita.

  • Tokoh pendukung, yaitu tokoh yang membantu mengembangkan cerita.

  • Tokoh protagonis, yaitu tokoh yang umumnya memiliki sifat baik atau menjadi pihak yang mendapat simpati pembaca.

  • Tokoh antagonis, yaitu tokoh yang menjadi lawan atau menimbulkan konflik bagi tokoh lainnya.

5. Penokohan

Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan tokoh beserta watak atau karakter yang dimilikinya.

Melalui penokohan, pembaca atau pendengar dapat mengetahui sifat, perilaku, karakter, bahkan kondisi fisik seorang tokoh. Tokoh dapat digambarkan sebagai pribadi yang baik hati, jujur, pemberani, cerdik, sombong, pemarah, atau memiliki sifat lainnya.

Penokohan dapat ditampilkan melalui perkataan, tindakan, pikiran, kebiasaan, maupun interaksi tokoh dengan tokoh lainnya.

Sebagai contoh, tokoh yang selalu membantu teman yang mengalami kesulitan dapat digambarkan sebagai tokoh yang memiliki sifat peduli dan suka menolong.

6. Sudut Pandang

Sudut pandang adalah cara pengarang menempatkan dirinya dalam sebuah cerita dongeng. Sudut pandang menentukan posisi pencerita ketika menyampaikan berbagai peristiwa dalam cerita.

Pengarang dapat menggunakan sudut pandang orang pertama dengan menggunakan kata seperti aku atau saya. Pengarang juga dapat menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan menggunakan kata seperti dia, ia, mereka, atau menyebut nama tokoh.

Pemilihan sudut pandang dapat memengaruhi cara pembaca memahami cerita dan mengetahui pengalaman para tokohnya.

7. Majas

Majas adalah gaya bahasa yang digunakan dalam dongeng untuk menciptakan efek tertentu sehingga cerita menjadi lebih hidup, menarik, dan imajinatif.

Penggunaan majas dapat membantu pembaca atau pendengar membayangkan suasana dan peristiwa yang terjadi dalam cerita.

Misalnya, dalam dongeng dapat digunakan ungkapan seperti:

"Angin malam berbisik di antara pepohonan."

Kalimat tersebut menggunakan gaya bahasa yang memberikan sifat manusia kepada angin. Penggunaan gaya bahasa semacam ini membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik bagi anak-anak.

8. Amanat

Amanat adalah pesan moral atau nilai kehidupan yang ingin disampaikan oleh penulis atau pencerita kepada pembaca atau pendengar.

Amanat merupakan salah satu unsur penting dalam dongeng karena cerita tidak hanya bertujuan menghibur, tetapi juga dapat memberikan pembelajaran kepada anak.

Amanat dapat disampaikan secara tersurat maupun tersirat. Pesan tersebut dapat berupa ajakan untuk bersikap jujur, menghormati orang lain, bertanggung jawab, bekerja keras, tidak sombong, suka menolong, dan berani mengakui kesalahan.

Sebagai contoh, dongeng tentang tokoh yang mengalami kesulitan karena suka berbohong dapat memiliki amanat bahwa kejujuran merupakan sikap yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kriteria Dongeng yang Ramah Anak

Selain memiliki unsur-unsur pembangun yang lengkap, cerita dongeng yang digunakan untuk anak-anak perlu memperhatikan kesesuaian isi dan nilai yang disampaikan. Cerita rakyat atau dongeng yang diangkat untuk anak sebaiknya bersifat ramah anak, sehingga memberikan pengalaman membaca atau mendengarkan cerita yang aman, positif, dan mendidik.

Beberapa kriteria yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Tidak Mengandung Unsur Pornografi atau Pornoaksi

Dongeng untuk anak tidak boleh mengandung materi pornografi maupun tindakan yang tidak sesuai dengan usia dan perkembangan anak. Isi cerita hendaknya menggunakan bahasa dan gambaran yang sesuai dengan dunia anak.

2. Tidak Mengandung Kekerasan Fisik

Cerita sebaiknya tidak menampilkan kekerasan fisik secara berlebihan atau menjadikannya sebagai contoh perilaku yang dapat ditiru anak. Konflik dalam cerita dapat diselesaikan dengan cara yang mendidik, seperti berdiskusi, bekerja sama, meminta maaf, atau mencari solusi.

3. Tidak Mengandung Kekerasan Verbal

Dongeng sebaiknya menghindari penghinaan, makian, perundungan, atau perkataan kasar yang dapat memberikan contoh negatif kepada anak.

4. Tidak Mengandung Provokasi SARA

Cerita yang digunakan untuk anak perlu menghargai keberagaman. Dongeng sebaiknya tidak mengandung provokasi, penghinaan, atau diskriminasi berdasarkan suku, agama, ras, maupun antargolongan (SARA).

5. Mengandung Nilai Positif

Dongeng sebaiknya memberikan nilai-nilai yang dapat membantu pembentukan karakter anak, seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, kepedulian, keberanian, kesopanan, dan menghargai orang lain.

Contoh Unsur-Unsur dalam Dongeng

Untuk memahami unsur-unsur dongeng dengan lebih mudah, perhatikan contoh sederhana berikut.

Judul: Kancil dan Buaya

  • Tema: Kecerdikan dalam menghadapi masalah.

  • Latar: Sungai di dalam hutan pada suatu hari.

  • Alur: Kancil ingin menyeberangi sungai, melihat banyak buaya, kemudian mencari cara agar dapat menyeberang dengan aman.

  • Tokoh: Kancil dan Buaya.

  • Penokohan: Kancil digambarkan cerdik, sedangkan Buaya digambarkan sebagai tokoh yang mudah percaya terhadap perkataan Kancil.

  • Sudut pandang: Dapat diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga.

  • Majas: Dapat digunakan untuk menggambarkan sungai, hutan, atau perilaku tokoh secara lebih hidup.

  • Amanat: Kecerdikan dapat membantu menyelesaikan masalah, tetapi sebaiknya digunakan secara bijaksana dan tidak merugikan orang lain.

Kesimpulan

Unsur-unsur dongeng merupakan bagian penting yang membangun sebuah cerita menjadi utuh dan menarik. Unsur tersebut meliputi tema, latar, alur, tokoh, penokohan, sudut pandang, majas, dan amanat.

Tema menjadi gagasan utama cerita, latar menjelaskan tempat, waktu, dan suasana, sedangkan alur mengatur rangkaian peristiwa. Tokoh menjadi pelaku dalam cerita dan penokohan menggambarkan karakter tokoh. Sudut pandang menentukan posisi pencerita, majas membuat bahasa cerita lebih hidup, sementara amanat menyampaikan pesan moral kepada pembaca atau pendengar.

Dalam penggunaannya untuk anak-anak, dongeng juga perlu memperhatikan prinsip ramah anak. Cerita sebaiknya tidak mengandung pornografi atau pornoaksi, kekerasan fisik maupun verbal, serta provokasi SARA. Sebaliknya, dongeng hendaknya menghadirkan cerita yang aman, menarik, mendidik, dan mengandung nilai-nilai positif untuk mendukung perkembangan karakter anak.