GUW0GUzoGSOpGSr0TUz9GfY0Gi==

Headline:

Materi Aksara Jawa: Seselan ra, la, lan na

   

Artikel ini mengandung font aksara jawa, sehingga memerlukan install font aksara jawa supaya artikel bisa terbaca dengan jelas. Panduan Install Aksara Jawa Klik Disini. Setelah Install Browser/ Google Chrome perlu ditutup dan dibuka kembali.


Seselan ra, la, dan na dalam Penulisan Aksara Jawa

Dalam tata tulis aksara Jawa terdapat proses pembentukan kata yang melibatkan seselan atau sisipan. Seselan merupakan imbuhan yang disisipkan ke dalam kata dasar sehingga membentuk kata baru. Berbeda dengan awalan, akhiran, maupun konfiks, seselan ditempatkan di tengah kata dasar.

Seselan yang sering digunakan dalam bahasa Jawa antara lain -ra-, -la-, dan -na-. Masing-masing memiliki aturan penulisan tersendiri dalam aksara Jawa. Oleh karena itu, pemahaman terhadap seselan sangat penting agar penulisan aksara Jawa sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Seselan ra dan la

Seselan -ra- dan -la- ditulis sesuai dengan proses pembentukan katanya. Artinya, dalam penulisan aksara Jawa bentuk sisipan tersebut harus tetap tampak sebagaimana asal pembentukannya.

Pengertian Seselan ra

Seselan -ra- adalah sisipan yang dimasukkan ke dalam kata dasar sehingga menghasilkan kata baru yang mengandung unsur bunyi ra.

Contoh

Pentul → Prêntul

Pembentukan:

     tu

Pentul + -r(a)- → Prêntul = = p}nl\

Pada kata tersebut terdapat penyisipan bunyi ra sehingga terbentuk kata prêntul.

Dalam aksara Jawa, bentuk ini ditulis mengikuti proses pembentukannya, yaitu dengan memunculkan unsur ra pada susunan aksaranya.

 

Pengertian Seselan la

Seselan -la- adalah sisipan yang menambahkan unsur bunyi la ke dalam kata dasar.

Contoh 1

Jerit → Jlêrit

Pembentukan:

Jerit + -l(a)- → Jlêrit = jLerit\

Kata jerit mengalami penyisipan bunyi la sehingga berubah menjadi jlêrit.

Pada penulisan aksara Jawa, unsur la tetap ditunjukkan sesuai proses pembentukan katanya.

Contoh 2

Gêrêng → Glêrêng

Pembentukan:

Gêrêng + -l(a)- → Glêrêng = gLex=

Kata dasar gêrêng mendapatkan sisipan la, sehingga menghasilkan bentuk glêrêng.

Dalam aksara Jawa, bentuk ini ditulis dengan menunjukkan keberadaan sisipan la yang menjadi bagian dari proses pembentukan kata.

 

Seselan na

Berbeda dengan seselan ra dan la, seselan na memiliki aturan khusus dalam penulisannya.

Aturan Seselan na

Seselan na ditulis tanpa kehadiran pasangan na.

Artinya, meskipun dalam proses pembentukan kata terdapat sisipan bunyi na, penulisannya dalam aksara Jawa tidak menggunakan pasangan na sebagaimana yang mungkin diperkirakan oleh pembelajar pemula.

Aturan ini merupakan salah satu kekhasan dalam penulisan aksara Jawa yang perlu diperhatikan.

Contoh Seselan na

Payung → Pinayungan

Pembentukan:

Payung + -(i)n- → Pinayungan = pinyu=zn\

Kata payung memperoleh seselan na, sehingga terbentuk kata pinayungan.

Dalam aksara Jawa, bentuk ini ditulis tanpa menggunakan pasangan na. Penulisannya mengikuti aturan khusus seselan na yang telah menjadi pakem dalam aksara Jawa.

Kata pinayungan sendiri sering dijumpai dalam ungkapan bahasa Jawa yang bermakna memperoleh perlindungan, naungan, atau penjagaan.

Contoh penggunaan:

Para siswa pinayungan dening guru nalika sinau ing sekolah.

Artinya:

Para siswa mendapat perlindungan dan bimbingan dari guru saat belajar di sekolah.

 

Perbedaan Seselan ra, la, dan na

Seselan

Aturan Penulisan

Contoh

-ra-

Ditulis sesuai proses pembentukan kata

Pentul → Prêntul

-la-

Ditulis sesuai proses pembentukan kata

Jerit → Jlêrit, Gêrêng → Glêrêng

-na-

Ditulis tanpa pasangan na

Payung → Pinayungan


Ringkasan

Beberapa hal penting yang perlu diingat mengenai seselan dalam aksara Jawa adalah sebagai berikut:

  1. Seselan merupakan imbuhan yang disisipkan ke dalam kata dasar.
  2. Seselan -ra- dan -la- ditulis sesuai proses pembentukannya.
  3. Contoh seselan -ra- adalah pentul → prêntul.
  4. Contoh seselan -la- adalah jerit → jlêrit dan gêrêng → glêrêng.
  5. Seselan -na- memiliki aturan khusus, yaitu ditulis tanpa pasangan na.
  6. Contoh seselan -na- adalah payung → pinayungan.
  7. Pemahaman terhadap seselan membantu penulisan aksara Jawa menjadi lebih tepat dan sesuai pakem.

Penutup

Seselan merupakan salah satu unsur penting dalam pembentukan kata bahasa Jawa. Setiap seselan memiliki aturan penulisan yang berbeda. Seselan ra dan la ditulis sesuai proses pembentukan katanya, sedangkan seselan na ditulis tanpa menggunakan pasangan na. Dengan memahami aturan-aturan tersebut, pembelajar aksara Jawa dapat menulis kata-kata berseselan dengan benar sehingga hasil penulisannya sesuai dengan kaidah aksara Jawa yang berlaku.


Table of contents

0Comments

Form
Link copied successfully