Akhiran -a (a ) yang Berubah Menjadi wa (w) dalam
Penulisan Aksara Jawa
Pendahuluan
Dalam aksara Jawa, penulisan akhiran tidak selalu
menggunakan bentuk yang sama. Bentuk akhiran dapat berubah sesuai dengan bunyi
vokal pada suku kata terakhir kata dasar yang menerimanya. Salah satu aturan
penting adalah perubahan akhiran -a menjadi wa (ꦮ) ketika bertemu dengan kata dasar yang berakhir pada bunyi u atau o.
Aturan ini merupakan bagian dari kaidah penulisan
aksara Jawa yang bertujuan untuk menjaga kelancaran pelafalan dan menghindari
pertemuan dua vokal secara langsung.
Aturan Penulisan
Akhiran -a (a) berubah menjadi wa (w) apabila bergabung dengan suku kata terakhir terbuka yang berbunyi u
(suku) atau o (taling tarung).
Dengan demikian, apabila kata dasar berakhir dengan
vokal u atau o, lalu mendapat akhiran -a, maka akhiran
tersebut ditulis menggunakan aksara wa.
Pola umumnya adalah:
kata berakhir u + -a → uwa
kata berakhir o + -a → owa
Mengapa
Berubah Menjadi Wa?
Dalam bahasa Jawa, pertemuan vokal u atau o
dengan vokal a biasanya menghasilkan bunyi peralihan w. Oleh
karena itu, dalam aksara Jawa digunakan aksara wa (w) sebagai penghubung kedua vokal tersebut.
Aturan ini mirip dengan perubahan akhiran -a
menjadi ya (y) pada kata yang berakhir dengan
bunyi i atau e.
Contoh
Penulisan
1.
Niru + -a → Nirua
Pembentukan
Kata dasar:
niru
Akhiran:
-a
Hasil:
Nirua = niruw
Karena kata niru berakhir dengan bunyi u,
maka akhiran -a berubah menjadi wa dalam penulisan aksara Jawa.
Contoh
Kalimat
Nirua tumindake wong liya.
?niruwtuminf[kK[w=oliy.
Artinya:
Jangan hanya meniru perbuatan orang lain.
2. Bodho + -a → Bodhoa
Pembentukan
Kata dasar:
bodho
Akhiran:
-a
Hasil:
Bodhoa = [bo[dow
Karena kata bodho berakhir dengan bunyi o,
maka akhiran -a ditulis menggunakan unsur wa.
Pengecualian
Aturan perubahan menjadi wa tidak berlaku
apabila kata dasar sudah berakhir dengan aksara wa (w).
Dalam keadaan demikian, aksara wa tidak
perlu ditambahkan lagi karena akan menimbulkan penulisan ganda yang tidak
sesuai dengan pakem.
1.
Tawu + -a → Nawua
Bentuk
yang Benar
Nawua = nwua
Penulisannya tidak menambahkan aksara wa
baru karena unsur wa sudah terdapat pada kata dasar.
Bentuk
yang Salah
❌ Menambahkan aksara wa
lagi sehingga terjadi pengulangan yang tidak diperlukan.
2.
Cuwo + -a → Cuwoa
Bentuk
yang Benar
Cuwoa = cu[woa
Karena kata dasar telah mengandung unsur wa,
maka tidak perlu menambahkan wa kedua.
Bentuk
yang Salah
❌ Menuliskan wa tambahan
sehingga bentuk aksaranya tidak sesuai dengan kaidah.
Perbandingan Aturan
|
Kata Dasar |
Bunyi Akhir |
Akhiran |
Bentuk Hasil |
|
bisa |
a |
-a |
bisaa |
|
mara |
a |
-a |
maraa |
|
wani |
i |
-a |
waniya |
|
dhéwé |
e |
-a |
dhéwéya |
|
niru |
u |
-a |
nirua |
|
bodho |
o |
-a |
bodhoa |
|
tawu |
u (sudah ada wa) |
-a |
nawua |
|
cuwo |
o (sudah ada wa) |
-a |
cuwoa |
Kesimpulan
Dalam aksara Jawa, akhiran -a berubah menjadi wa
(w) apabila bergabung dengan kata
dasar yang berakhir dengan bunyi u atau o. Aturan ini membantu menjaga kelancaran pelafalan
dan kesesuaian bentuk tulisan. Contoh yang umum adalah nirua dan bodhoa.
Namun, apabila kata dasar sudah mengandung unsur wa, seperti pada nawua
dan cuwoa, maka tidak perlu menambahkan aksara wa lagi. Dengan
memahami aturan ini, penulisan kata berakhiran dalam aksara Jawa akan menjadi
lebih tepat dan sesuai dengan pakem yang berlaku.
0Comments