Akhiran -na (-n) pada
Kata Bersuku Kata Tertutup dalam Aksara Jawa Menurut Paugeran Sriwedari
Pendahuluan
Dalam tata
bahasa Jawa, akhiran atau sufiks memiliki peran penting dalam pembentukan kata.
Salah satu akhiran yang sering digunakan adalah -na (-n). Akhiran
ini banyak dijumpai dalam kalimat perintah, permintaan, maupun bentuk kata
kerja yang mengandung makna melakukan suatu tindakan terhadap objek tertentu.
Menurut Paugeran
Sriwedari, penulisan akhiran -na (-n) memiliki aturan yang relatif sederhana dibandingkan
akhiran lain seperti -ana atau -aké. Apabila akhiran -na
bergabung dengan kata yang berakhir pada suku kata tertutup, bentuk kata
dasar tidak mengalami perubahan. Akhiran dapat langsung ditambahkan pada kata
dasar tersebut.
Aturan ini
menunjukkan bahwa tidak semua akhiran dalam bahasa Jawa menyebabkan perubahan
bunyi atau perubahan bentuk kata dasar. Pada kondisi tertentu, kata dasar tetap
dipertahankan sebagaimana bentuk asalnya.
Pengertian
Akhiran -na (-n)
Akhiran -na
(-n) merupakan
salah satu sufiks dalam bahasa Jawa yang berfungsi untuk:
- membentuk kalimat
perintah,
- memperhalus suatu
instruksi,
- menunjukkan tindakan
yang harus dilakukan terhadap sesuatu,
- membentuk kata kerja
tertentu.
Dalam
penggunaan sehari-hari, akhiran ini sangat sering ditemukan dalam percakapan
maupun karya tulis berbahasa Jawa.
Contoh:
- tulis → tulisna
- simpen → simpenna
- golek → golekna
- gawa → gawana
Pengertian Suku
Kata Tertutup
Suku kata
tertutup adalah suku kata yang diakhiri oleh konsonan.
Contoh:
- golek
- simpen
- tulis
- tutup
- duduk
Pada
kata-kata tersebut, bunyi terakhir bukan vokal melainkan konsonan, sehingga
termasuk kelompok suku kata tertutup.
Kaidah Akhiran -na (-n) Menurut Paugeran Sriwedari
Paugeran
Sriwedari menjelaskan bahwa:
Akhiran -na
(-n) apabila
bergabung dengan suku kata terakhir yang tertutup, tidak mengalami perubahan
bentuk.
Artinya:
- kata dasar tetap
dipertahankan,
- tidak ada perubahan
huruf,
- tidak ada peluluhan,
- tidak ada penambahan
konsonan bantuan.
Akhiran -na
(-n) cukup
ditambahkan secara langsung pada kata dasar.
Contoh Penulisan
Golek + -na
Kata Dasar
golek
Kata ini
berakhir dengan huruf k, sehingga termasuk suku kata tertutup.
Proses Pembentukan
golek
-na
↓
Golekna = [go[lkN
Tidak
terjadi perubahan pada kata dasar.
Huruf k
tetap dipertahankan.
Bentuk inilah
yang digunakan dalam penulisan Aksara Jawa menurut Paugeran Sriwedari.
Mengapa Tidak
Mengalami Perubahan?
Berbeda
dengan akhiran -aké atau -ana, akhiran -na tidak
menimbulkan benturan bunyi yang memerlukan penyesuaian fonologis.
Sebagai
akibatnya:
- bunyi kata tetap mudah
diucapkan,
- struktur suku kata
tetap jelas,
- tidak diperlukan huruf
bantu.
Karena
itulah bentuk kata dasar dapat dipertahankan sepenuhnya.
Contoh Kata Lain
yang Mengikuti Pola yang Sama
Selain kata
golek, terdapat banyak kata lain yang mengikuti aturan serupa.
|
Kata Dasar |
Bentuk Berakhiran -na |
Tulisan |
|
tulis |
tulisna |
tulisN |
|
simpen |
simpenna |
simpenN |
|
cetak |
cetakna |
[ctkN |
|
tutup |
tutupna |
tutupN |
|
cokot |
cokotna |
[co[kotN |
|
tarik |
tarikna |
trikN |
Seluruh
contoh tersebut tetap mempertahankan bentuk kata dasarnya karena berakhir
dengan suku kata tertutup.
Pentingnya
Memahami Aturan Ini
Pemahaman
mengenai akhiran -na (-n) penting karena:
- Membantu menulis Aksara
Jawa secara benar.
- Menghindari kesalahan
pembentukan kata.
- Mempermudah membaca
naskah Jawa.
- Memahami perbedaan
fungsi berbagai akhiran.
- Menjaga kesesuaian
dengan Paugeran Sriwedari.
Bagi guru
dan siswa, materi ini merupakan dasar sebelum mempelajari bentuk-bentuk afiks
yang lebih kompleks.
Penutup
Menurut Paugeran
Sriwedari, akhiran -na yang bergabung dengan kata dasar berakhiran suku
kata tertutup tidak menyebabkan perubahan bentuk kata dasar. Kata tersebut
tetap dipertahankan sebagaimana bentuk aslinya, kemudian akhiran -na
ditambahkan secara langsung. Contoh yang diberikan adalah golek → golekna,
yang menunjukkan bahwa huruf akhir k tetap dipertahankan tanpa perubahan
apa pun.
Aturan ini
memperlihatkan bahwa sistem tata tulis Aksara Jawa tidak selalu mengharuskan
perubahan bunyi ketika terjadi penambahan akhiran. Dengan memahami kaidah ini,
penulis dan pembelajar Aksara Jawa dapat menghasilkan tulisan yang lebih tepat,
baku, dan sesuai dengan Paugeran Sriwedari.
0Comments