Dalam tata
bahasa Jawa, akhiran -aké (-a[k) merupakan
salah satu sufiks yang sangat sering digunakan. Akhiran ini berfungsi untuk
membentuk kata kerja yang bersifat aktif, kausatif (menyebabkan sesuatu
terjadi), atau imperatif (perintah). Dalam bahasa Indonesia, fungsi akhiran ini
sering sepadan dengan kata -kan.
Contoh:
- nglakokaké = melakukan
- nggawékaké = membuatkan
- ngaturaké = menyampaikan
- nyiapaké = menyiapkan
Namun,
dalam penulisan Aksara Jawa menurut Paugeran Sriwedari, akhiran -aké
(-a[k) memiliki aturan khusus. Ketika akhiran ini
bertemu dengan kata dasar yang berakhir pada suku kata terbuka,
diperlukan perubahan tertentu pada suku kata terakhir sebelum akhiran
ditambahkan.
Aturan ini
bertujuan menjaga keteraturan bentuk kata dan mempertahankan kaidah fonologi
bahasa Jawa.
Pengertian
Akhiran -aké (-a[k)
Akhiran -aké
(-a[k) adalah sufiks yang digunakan untuk membentuk kata
kerja.
Fungsi
akhiran ini antara lain:
1. Menyatakan
Perintah
Contoh:
- lakokaké!
- tulisaké!
- gawaaké!
2. Menyatakan
Tindakan terhadap Objek
Contoh:
- nyritakaké
(menceritakan)
- nampilaké (menampilkan)
- ngandharaké
(menguraikan)
3. Menyebabkan
Sesuatu Terjadi
Contoh:
- urip → nguripaké
- mati → matèni /
matèkaké
Dalam
Aksara Jawa, akhiran ini ditulis dengan bentuk khusus yang harus mengikuti
aturan Sriwedari.
Aturan Dasar
Akhiran -aké (-a[k)
Menurut
Paugeran Sriwedari:
Jika
akhiran -aké (-a[k) bergabung
dengan kata yang berakhir pada suku kata terbuka, maka suku kata terakhir harus
dijadikan suku kata tertutup terlebih dahulu dengan menambahkan bunyi -k.
Dengan kata
lain, sebelum akhiran -aké (-a[k) ditambahkan,
kata dasar harus mengalami proses pembentukan bantuan terlebih dahulu.
Rumusnya:
Kata Dasar
+ k + aké
Langkah ini
menghasilkan bentuk yang benar menurut tata tulis Sriwedari.
Mengapa Harus
Ditambahkan -k?
Penambahan
bunyi -k memiliki beberapa fungsi.
1. Menutup Suku
Kata Terakhir
Sebagian
besar kata dasar dalam bahasa Jawa berakhir dengan vokal.
Contoh:
- tapa
- lali
- gèdhé
- aju
Sebelum
menerima akhiran -aké (-a[k), suku
kata terakhir perlu ditutup dengan konsonan k.
2. Menjaga
Kelancaran Bunyi
Tanpa
penambahan k, pertemuan antara vokal akhir kata dasar dan vokal awal
akhiran dapat menghasilkan pengucapan yang kurang sesuai dengan kaidah bahasa
Jawa.
3. Menyesuaikan
Tata Tulis Aksara Jawa
Aksara Jawa
sangat memperhatikan struktur suku kata. Penambahan k membuat susunan
aksara menjadi lebih teratur dan mudah dibaca.
Perubahan Vokal
yang Terjadi
Selain
penambahan k, terdapat perubahan vokal tertentu yang harus diperhatikan.
Vokal i Menjadi
é
Apabila
kata dasar berakhir dengan bunyi i (wulu), maka bunyi tersebut berubah
menjadi é (taling).
Contoh:
lali
menjadi
lalèkaké
Bukan:
lalikaké
Perubahan
ini merupakan ketentuan baku dalam Paugeran Sriwedari.
Vokal u Menjadi
o
Apabila
kata dasar berakhir dengan bunyi u (suku), maka bunyi tersebut berubah
menjadi o (taling tarung).
Contoh:
aju
menjadi
ajokaké
Bukan:
ajukaké
Contoh Penulisan
1. Tapa → Tapakaké
Proses Pembentukan
Kata dasar:
tapa
Ditambah
bantuan:
(N) tapak
Kemudian
mendapat akhiran:
-aké
Hasil:
napakaké = npkH[k
2. Lali → Lalèkaké
Proses Pembentukan
Kata dasar:
lali
Perubahan
vokal:
i → é
Menjadi:
lalé
Ditambah
bantuan:
(N) lalèk
Kemudian:
Nglalèkaké
= a=l[lkH[k | zL[lkH[k
Mengapa Tidak
Lalikaké?
Karena
menurut paugeran, vokal i yang berada pada posisi tersebut harus berubah
menjadi é sebelum akhiran ditambahkan.
3. Gèdhé →
Gèdhèkaké
Proses Pembentukan
Kata dasar:
gèdhé
Ditambah:
(N) gèdhèk
Kemudian:
Nggèdhèkaké
= a= ge[dkH[k | zGe[dkH[k
4. Aju → Ajokaké
Proses Pembentukan
Kata dasar:
aju
Vokal:
u → o
Menjadi:
ajo
Ditambah:
ajok
Kemudian:
Ngajokaké =
z[jokH[k
Kesalahan yang
Sering Terjadi
Menambahkan -aké
Secara Langsung
Contoh:
- tapaaké
- laliaké
- gèdhéaké
Bentuk
tersebut tidak sesuai dengan kaidah Sriwedari karena tidak melalui proses
pembentukan suku kata tertutup.
Tidak Mengubah
Vokal i
Kesalahan:
- lalikaké
Yang benar:
- lalèkaké
Tidak Mengubah
Vokal u
Kesalahan:
- ajukaké
Yang benar:
- ajokaké
Menghilangkan
Unsur k
Kesalahan:
- laléaké
- ajoaké
Yang benar:
- lalèkaké
- ajokaké
Penutup
Akhiran -aké
(-a[k) merupakan salah satu sufiks penting dalam bahasa
Jawa yang berfungsi membentuk kata kerja dan ungkapan perintah. Menurut Paugeran
Sriwedari, apabila akhiran ini bergabung dengan kata yang berakhir pada
suku kata terbuka, maka suku kata terakhir harus terlebih dahulu ditutup dengan
bunyi -k. Selain itu, vokal i berubah menjadi é, sedangkan
vokal u berubah menjadi o sebelum akhiran ditambahkan.
Melalui
aturan tersebut terbentuk kata-kata seperti tapakaké, lalèkaké, gèdhèkaké,
dan ajokaké. Memahami kaidah ini sangat penting bagi siapa saja yang
ingin menulis Aksara Jawa secara benar, baku, dan sesuai dengan tradisi
penulisan yang diwariskan dalam Paugeran Sriwedari.
0Comments