Tembung Tanduk dalam Aksara Jawa
Dalam
pembelajaran bahasa dan aksara Jawa, terdapat aturan khusus dalam penulisan
kata berawalan nasal. Salah satu aturan tersebut dikenal dengan istilah tembung
tanduk. Materi ini penting dipahami karena berkaitan dengan perubahan bunyi
kata dasar ketika mendapat imbuhan tertentu.
Pemahaman
tentang tembung tanduk membantu siswa agar dapat menulis aksara Jawa dengan
benar sesuai kaidah penulisan tradisional.
Pengertian Tembung
Tanduk
Tembung
tanduk adalah kata aktif dalam bahasa
Jawa yang awal kata dasarnya mengalami perubahan atau luluh ketika mendapat
awalan nasal, seperti:
- pa(N)-
- ma(N)-
Dalam
aturan aksara Jawa, apabila huruf awal kata dasar sudah luluh karena awalan
nasal, maka huruf awal yang luluh tersebut tidak perlu ditulis kembali.
Pengertian Awalan
Nasal
Awalan
nasal adalah imbuhan yang menyebabkan perubahan bunyi pada huruf awal kata
dasar.
Contoh
perubahan:
|
Kata Dasar |
Setelah Mendapat Awalan |
Ditulis |
|
sembah |
panembah |
pnemBh |
|
cèkel |
panyêkèl |
pvekel\ |
|
tulis |
panulis |
pnulis\ |
|
pukul |
pamukul |
pmukul\ |
Huruf awal
kata dasar berubah atau luluh mengikuti bunyi nasal.
Aturan Penulisan
Tembung Tanduk
Aturan Utama
Jika huruf
awal kata dasar sudah luluh akibat awalan nasal, maka huruf yang luluh tersebut
tidak ditulis lagi dalam aksara Jawa.
Aturan ini
bertujuan agar penulisan lebih sederhana dan sesuai pengucapan.
Contoh Tembung
Tanduk
1. Kata “panèmbah”
Kata Dasar:
sèmbah
Mendapat Awalan:
pa(N)-
Menjadi:
Panèmbah pnemBh
Huruf awal s
pada kata “sèmbah” luluh sehingga tidak ditulis lagi.
Penulisan yang
Benar
Dalam
aksara Jawa, penulisan mengikuti bunyi hasil perubahan.
Huruf “s”
yang sudah luluh tidak dirangkap kembali.
Penulisan yang
Salah
Kesalahan
yang sering terjadi adalah tetap menulis huruf awal “s” meskipun sudah luluh.
Akibatnya
penulisan menjadi tidak sesuai aturan tembung tanduk.
2. Kata “panyêkèl”
Kata Dasar:
cèkel
Mendapat Awalan:
pa(N)-
Menjadi:
Panyêkèl pvekel\
Huruf awal
“c” mengalami perubahan bunyi sehingga tidak perlu ditulis kembali.
Mengapa Huruf Awal
Tidak Ditulis?
Karena
bunyi huruf awal sudah melebur dengan awalan nasal.
Jika masih
ditulis kembali, maka penulisan menjadi:
- berlebihan,
- tidak sesuai pelafalan,
- dan menyalahi aturan
aksara Jawa.
Contoh Tembung
Tanduk Lain
|
Kata Dasar |
Awalan |
Hasil |
Ditulis |
|
tulis |
pa(N)- |
panulis |
pnulis\ |
|
gawa |
pa(N)- |
panggawa |
p=gw |
|
pukul |
pa(N)- |
pamukul |
pmukul\ |
|
jupuk |
pa(N)- |
panjupuk |
pnJ|puk\ |
|
cithak |
pa(N)- |
panyithak |
pviqk\ |
0Comments