Taling Tarung Palsu dalam Aksara
Jawa
Dalam penulisan Aksara Jawa,
terdapat istilah yang disebut taling tarung palsu. Istilah ini dikenal
dalam Pedoman Ejaan Penulisan Sriwedari untuk membantu pembaca memahami
pelafalan kata dalam bahasa Jawa dengan lebih tepat.
Taling tarung palsu digunakan
pada kata yang terdiri atas dua suku kata atau lebih dan tidak
mendapat akhiran. Ciri utama kata tersebut adalah:
- Suku kata pertama berakhir dengan bunyi nasal, yaitu:
- n
- m
- ng
- ny
- Suku kata pertama menggunakan vokal a.
- Suku kata berikutnya merupakan suku kata terbuka
dengan vokal a jêjêg, yaitu bunyi a yang diucapkan mendekati
bunyi o dalam bahasa Indonesia.
Mengapa Disebut “Palsu”?
Disebut taling tarung palsu
karena dalam pengucapan terdengar seperti menggunakan bunyi o, padahal
dalam penulisan dasarnya tetap menggunakan vokal a. Jadi, perubahan
terjadi pada cara membaca, bukan pada bentuk kata dasarnya.
Ciri-Ciri Taling Tarung Palsu
Agar lebih mudah memahami,
berikut cirinya:
- Kata memiliki minimal dua suku kata.
- Tidak diberi imbuhan atau akhiran.
- Suku kata pertama tertutup nasal.
- Setelahnya terdapat bunyi a jêjêg yang
terdengar seperti “o”.
Contoh
11 Kanca = [kovC
2. Tamba = [tomB
3. Manca = [movC
4. Bangsa = [b=os
Perubahan Bunyi Taling Tarung
Palsu karena Akhiran
Dalam pembelajaran Aksara Jawa,
taling tarung palsu tidak selalu tetap. Pada kondisi tertentu, bunyi tersebut
dapat berubah kembali menjadi bunyi asli vokal a. Perubahan ini biasanya
terjadi ketika sebuah kata mendapatkan akhiran tertentu.
Akhiran yang menyebabkan
perubahan tersebut antara lain:
- -é
- -ipun
- -aké
- -akên
- -mu
- -ku
- -ne
- -an
Ketika kata yang memiliki taling
tarung palsu diberi akhiran tersebut, maka bunyi “o” semu yang sebelumnya
muncul akan hilang. Pengucapan kata kembali menjadi bunyi a miring,
yaitu bunyi seperti huruf “a” pada kata saya. Dalam istilah Jawa, bunyi
itu kembali menjadi bunyi lêgêna.
Mengapa Bunyinya Berubah?
Perubahan ini terjadi karena
penambahan akhiran mengubah struktur suku kata dalam kata tersebut. Suku kata
yang sebelumnya tertutup nasal menjadi terbuka atau berpindah pengaruh bunyinya
sehingga efek taling tarung palsu menghilang.
Akibatnya, vokal yang semula
terdengar seperti “o” kembali dibaca sebagai bunyi “a”.
Contoh
1. Kandhane = knD[n
2. Kandhakake = knDkH[k
3. Tambanipun = tmBnipun\

0Comments