GUW0GUzoGSOpGSr0TUz9GfY0Gi==

Headline:

Materi Aksara Jawa: Taling Tarung Palsu


Taling Tarung Palsu dalam Aksara Jawa

Dalam penulisan Aksara Jawa, terdapat istilah yang disebut taling tarung palsu. Istilah ini dikenal dalam Pedoman Ejaan Penulisan Sriwedari untuk membantu pembaca memahami pelafalan kata dalam bahasa Jawa dengan lebih tepat.

Taling tarung palsu digunakan pada kata yang terdiri atas dua suku kata atau lebih dan tidak mendapat akhiran. Ciri utama kata tersebut adalah:

  1. Suku kata pertama berakhir dengan bunyi nasal, yaitu:
    • n
    • m
    • ng
    • ny
  2. Suku kata pertama menggunakan vokal a.
  3. Suku kata berikutnya merupakan suku kata terbuka dengan vokal a jêjêg, yaitu bunyi a yang diucapkan mendekati bunyi o dalam bahasa Indonesia.

Mengapa Disebut “Palsu”?

Disebut taling tarung palsu karena dalam pengucapan terdengar seperti menggunakan bunyi o, padahal dalam penulisan dasarnya tetap menggunakan vokal a. Jadi, perubahan terjadi pada cara membaca, bukan pada bentuk kata dasarnya.

Ciri-Ciri Taling Tarung Palsu

Agar lebih mudah memahami, berikut cirinya:

  1. Kata memiliki minimal dua suku kata.
  2. Tidak diberi imbuhan atau akhiran.
  3. Suku kata pertama tertutup nasal.
  4. Setelahnya terdapat bunyi a jêjêg yang terdengar seperti “o”.

Contoh

11   Kanca = [kovC


2.      Tamba = [tomB


3.      Manca = [movC


4.      Bangsa = [b=os


Perubahan Bunyi Taling Tarung Palsu karena Akhiran

Dalam pembelajaran Aksara Jawa, taling tarung palsu tidak selalu tetap. Pada kondisi tertentu, bunyi tersebut dapat berubah kembali menjadi bunyi asli vokal a. Perubahan ini biasanya terjadi ketika sebuah kata mendapatkan akhiran tertentu.

Akhiran yang menyebabkan perubahan tersebut antara lain:

  • -é
  • -ipun
  • -aké
  • -akên
  • -mu
  • -ku
  • -ne
  • -an

Ketika kata yang memiliki taling tarung palsu diberi akhiran tersebut, maka bunyi “o” semu yang sebelumnya muncul akan hilang. Pengucapan kata kembali menjadi bunyi a miring, yaitu bunyi seperti huruf “a” pada kata saya. Dalam istilah Jawa, bunyi itu kembali menjadi bunyi lêgêna.

Mengapa Bunyinya Berubah?

Perubahan ini terjadi karena penambahan akhiran mengubah struktur suku kata dalam kata tersebut. Suku kata yang sebelumnya tertutup nasal menjadi terbuka atau berpindah pengaruh bunyinya sehingga efek taling tarung palsu menghilang.

Akibatnya, vokal yang semula terdengar seperti “o” kembali dibaca sebagai bunyi “a”.

Contoh

1.      Kandhane = knD[n


2.      Kandhakake = knDkH[k


3.      Tambanipun = tmBnipun\


Table of contents

0Comments

Form
Link copied successfully